Kamis, 15 September 2022

Narasi Pengalaman Semester 4

 

Nama  : Dede agustianto

NIM     : 12001189

Kelas    : 5E PAI

 

Assalamualaikum wr.wb perkenalkan nama aku Dede agustianto. Sebelum aku menceritakan pengalaman selama melakukan perkuliahan semester ini, saya ingin flashback dulu ke masa semester dua dan tiga, yang pertama di semester satu.

Aku masuk perkuliahan semester pertama. Senin, 19 Oktober 2020 adalah hari pertama aku masuk kuliah di Universitas IAIN Pontianak. Malam sebelum hari senin aku bergadang karena aku sangat menyukai game Mobile Legends sehingga membuat aku lupa dengan waktu istirahat di malam hari, sampai waktu subuh aku terbangun dan melakukan ibadah sholat subuh setelah itu aku berifikir kalau tidur lagi bakalan bangun telat karena lama sudah tidak sekolah jadi terbiasa dengan sehabis subuh tidur lagi, yaa karena tidak ada kegiatan sehabis tamat SMA untuk mengisi kegabutan hanya bergadang main game. Sehingga membuat ku mengurungkan niat ku untuk tidur jadi aku memainkan Handphone (Gawai).

 

Tidak lama kemudian terjadi lah yang tidak aku inginkan saat itu yaitu tertidur dan membuat aku bangun pukul 06.45 pada saat itu aku lupa bahwa kuliah hari pertama pada hari itu, untung ada kawan yang mengingat kan

“siap-siap kawan sebentar lagi kuliah hari pertama”

langsung spontan aku mengingat bahwa sekarang ini hari senin hari kuliah pertama, dengan cepat aku mandi, selesai mandi aku langsung cepat-cepat memakai pakaian dan langsung memegang HandPhone (Gawai).Dan ternyata oh ternyata kuliah hari pertama menggunakan WhatsApp padahal aku sudah mendownload aplikasi Zoom dan Google meet, tapi tidak apa-apa lah ada juga kemudahan nya terima kasih dosen ku.

 

Lanjut ke Mata Kuliah pertama yaitu Bahasa Indonesia dengan dosen yang bernama ibu Farninda Aditya, M. Pd. Kesan pertama yang lumayan menegangkan karena ya baru jadi mahasiswa rasanya deg-degan mana takut telat, taku dosen garang dan takut bertanya. Di mulai dari absen pelajaran Bahasa Indonesia aku melihat ibu Farninda garang menurut aku tetapi garang nya pasti untuk mengajarkan anak-anak mahasiswa baru untuk kebaikan ya walaupun kadang-kadang masih ada sifat waktu SMA suka melawan guru dan lain-lain. Kembali ke pelajaran rupanya kesan pertama tidak buruk walaupun absen telat ya insyaallah akan di perbaiki.

 

Waktu jam pertama pun habis. Lanjut Mata Kuliah Bahasa Inggris, Nama dosen Mata Kuliah Bahasa Inggris adalah ibu Vibry Andina Nurhidayah, S. PD., M.Hum. ngomong-ngomong Bahasa Inggris yaa kalian tau la yang namanya Bahasa Inggris pasti Speak To English dan… kenyataan nya aku hanya tau yes dan no, tetapi tidak apa la namanya juga belajar. Kesan pertama kali ini lumayan enjoy karena yang pertama belum mengetahui apa-apa soal kuliah online dan untung dosen Mata Kuliah Ini enjoy jadi kadang serius dan kadang bergurau, pelajaran ini salah satu pelajaran yang ingin aku kuasai karne aku bermain Game terkadang berjumpa dengan Orang Inggris jika aku menguasai Bahasa Inggris yaa walaupun sedikit setidak nya aku bias berkomunikasi dengan Orang Inggris dan bias juga menambah kawan lumayan ada sahabat pena kata orang-orang.

 

Untuk hari pertama kuliah seperti biasa yaah tetap perkenalan, tapi perkenalan tahun ini berbeda di karenakan kondisi sekarang sedang pandemi Covid (corona) jadi, perkenalan kuliah tahun ini melalui media seperti zoom atau google meet. Tetapi ada yang beda di tahun ini rasanya kurang menyenangkan jika awal-awal kuliah sudah online jadi kurang seru gitu. Hari pertama kuliah pun selesai walaupun online tetapi mau tidak mau harus di jalankan walaupun online.

 

Begitu lah kira-kira pengalamanku saat pertama kali masuk kuliah di semester pertama, selanjutnya aku akan menceritakan pengalamanku selama semester 2 ini. Pada saat itu virus Corona atau biasa di sebut Covid-19 telah mengubah semua sendi kehidupan. Semua aktivitas dilakukan secara online, karena adanya larangan keluar rumah guna memutus mata rantai penyebaran virus yang telah menelan banyak korban. Konsep pendidikan juga berubah, tadinya proses belajar mengajar dilakukan secara tatap muka, sekarang menggunakan berbagai aplikasi jejaring sosial.

 

Hal ini ternyata sangat membosankan dirasakan sebagian besar mahasiswa Universitas IAIN Pontianak. Hal tersebut banyak curhatan mahasiswa belajar daring dan banyak juga mahasiswa mulai mengeluhkan proses perkulihan dilakukan secara daring. Mulai adanya kebosanan dengan sistem ini, banyaknya tugas yang diberikan dosen, dan adanya kerinduan untuk berjumpa dengan kawan-kawan serta ingin merasakan kuliah tatap muka yang menurut mereka sangat membantu dalam memahami ilmu secara efektif.

 

Selanjutkan ceritaku di semester 3 yakni, memperpanjang cerita yang telah aku tulis di semester 1. Dengan menambahkan ceritanya jadi semakin jauh dan semakin menarik. Karena pada saat kami berbincang, bang fajar berkata “ujung dari ceritanya gantung de”. Makanya setelah itu tanpa kami sadari, kami berbincang-bincang soal cerita-cerita film seperti film Harry Poter, Jumanji, Fantastic Beast dan film fantasy lainya. Begitulah asal muasal dari kelanjutanya buku Terjebak Di Pulau Borneo ini. Setelah itu aku fokus memeperpanjang buku cerita itu. Hari demi hari aku mencari ide untuk memperpanjang cerita itu, dari menonton film action, comedy dan fantasy yang bisa membuat otak ku lancar.

 

Harapanku untuk semester berikutnya yang pertama adalah dilakukan kuliah tatap muka, karena sudah ada wacana akan dilakukan kuliah tatap muka disemester baru, namun tidak terasa aku sudah memasuki semester baru, yaitu semester ganjil atau semester tiga yang ternyata masih tetap sama, hanya wacana, lagi-lagi aku harus melakukannya secara online. Harapan lain, agar biaya UKT bisa diringankan dan memberikan info yang jelas.

Aku juga berharap agar perkulihan ini lebih banyak menggunakan whatsApp group karena lebih hemat kuota internet, menggunakan media yang memadai lainnya juga untuk memberikan penjelasan materi yang cukup dimengerti mahasiswa. Dari segi penilaian atau assesment diharapkan dosen dapat berlaku adil dan menghargai usaha dari para mahasiswanya. Dari segi tugas dan koreksinya, diharapkan dosen dapat memberikan feedback agar mahasiswa dapat mengetahui lebih jelas terhadap tugas yang sudah dikerjakan. 

tingkat keefektifannya yang bisa dikatakan relatif, tergantung dari masing-masing komponen yang menunjang atau turut serta dalam proses pembelajaran daring ini sehingga diharapkan pembelajaran ini membawa hasil yang terbaik meskipun dalam keterbatasan yang ada. Mahasiswa diharapkan mandiri dan lebih aktif belajar bukan hanya mengandalkan materi yang telah diberikan saja tetapi juga dari sumber lain. Dosen dan pihak Fakultas/Universitas hendaknya menyesuaikan kurikulum dengan keadaan saat ini sehingga perkuliahan daring tetap dapat dilaksanakan dan tidak terlalu membebani. Diperlukan pula model pembelajaran yang atraktif, aktif, dan dapat diterima oleh semua tipe mahasiswa. Pemerintah juga mengusahakan yang terbaik untuk menunjang keberlangsungan pembelajaran di masa pandemi COVID-19 ini, seperti contohnya pemberian subsidi kuota bagi siswa, guru, mahasiswa, maupun dosen tiap bulannya. Dalam jangka panjang, pembelajaran daring dapat membatasi kegiatan lapangan atau praktikum yang mendukung mata kuliah sehingga diperlukan inovasi pembelajaran campuran learning saat kondisi sudah mulai membaik dan memungkinkan pelaksanaan protokol kesehatan di kampus.

 

Namun situasi sekarang sangat memberi beban pada mahasiswa dan membuat pengalaman perkuliahan menjadi sesuatu yang membosankan, bahkan bisa sampai pada titik kejenuhan dan berdampak pada tidak berkualitasnya pendidikan yang diperoleh. Mahasiswa terengah-engah mengikuti proses pembelajaran. Dalam sekejap tugas menumpuk. Mereka dituntut bertransformasi jadi pembelajar mandiri dalam waktu semalam.

Diharapkan semoga pembelajaran melalui online ini dapat lebih maksimal lagi, baik mahasiswa maupun dosen.

 

Menghadapi situasi seperti ini, aku sangat berharap jika mahasiswa semester 3 yang sama sekali belum pernah merasakan kuliah tatap muka ini segera kuliah luring atau tatap muka. Mungkin sudah setahun ini aku sudah terbiasa dengan kuliah online, namun harapan untuk beradaptasi dengan hal baru sangat diinginkan, bukan soal kenyamanan atau tidak nyaman, namun sudah seharusnya kami mendapatkan fasilitas yang seharusnya didaptkan agar materi pun didapatkan dengan baik, tugas dikerjakan dengan baik, bukan hanya sebatas menggugurkan kewajiban saja. Semoga pandemi ini pun segera berakhir, bukan hanya dunia perkuliahan, namun semua jenjang pendidikan juga mengalami kesulitan saat kuliah online, maka dari itu semoga pendidikan di Indonesia ini lebih baik lagi.

 

 

Baiklah selanjutnya saya akan menceritakan kegiatan pada saat liburan semester 4 bulan lalu. Pada saat tibanya liburan semester 4, seperti biasanya saya memikirkan kembali mengenai buku yang telah saya tulis semenjak semester 3 yang belum selasai hingga sekarang ini. Entah kenapa, sangat sulit sekali untuk meneruskan cerita tersebut hingga selesai, sudah banyak film-film yang saya tonton untuk menjadi referensi buku tersebut agar menjadi cerita yang membuat pembacanya merasakan nuansa cerita masa kecil berserta di campurnya cerita-cerita mitos jawa. Tapi sebelum itu saya ingin menceritakan kegiatan apa saja yang saya lakukan pada saaat liburan semester lalu selain melanjutkan buku yang berjudul Terjebak Di Pulau Boreno.

 

            Hari pertama liburan semester aku menyendiri di rumah, sambil memikirkan kegiatan apa yang akan kulakukan selama satu bulan full ini. Setelah berjam-jam mikir akhirnya aku menemukan rencana yang telahku siapkan untuk satu bulan full ini. Antara lain, bangun pagi, olahraga, membaca buku yang berjudul Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo amat, ngopi bersama teman dan melanjutkan buku. Akan tetapi semua rencana itu hanya bertahan selama seminggu… Entah kenapa setiap aku merencanakan sebuah kegiatan, aku tidak bisa melaksanakan rencana tersebut bertahan lama. Hari pertama aku berhasil melakukan kegiatanku hingga hari ketujuh. Tibalah minggu kedua, aku sudah mulai tidak sesering minggu pertama melakukan kegiaatan ku di minggu pertama. Di minggu kedua ini sudah mulai berkurang kegiatanku bangun pagi beserta olahraga, akan tetapi rutinitas ngopi tetapku lakukan. Karena, di saat ngopi inilah pikiranku entah kenapa lancar jaya dan ide-ide tentang buku yang akan aku lanjutkan bisa aku kerjekan kembali dan tidak menutup kemungkinan dari hasil ngopi lah aku bisa melanjutkan buku walaupun yaaa, hanya sedikit yang bisaku lanjutkan. Lebih baik sedikit dari pada tidak sama sekali.

 

            Di minggu ketiga aku sudah mulai tidak terbiasa lagi membaca buku dan alhasil buku yang inginku lanjutkan sudah tidak tersentuh selama jenjang 2 atau 3 hari. Jadi, dalam waktu seminggu dalam minggu ketiga ini aku hanya menulis buku 2 atau 3 hari sekali, pada minggu ketiga ini lah ibuku membeli meja pimpong dan alhasil aku mendapatkan rutinitas olahragaku kembali walaupun olahraga ini hanya di waktu sore, kebetulan olahraga pimpong ini bisa di mainkan oleh semua kalangan mau orang tua atau anak muda. Selama satu minggu full di minggu ketiga ini setiap sore aku melakukan kegiatan olahgraga yakni olahraga pimpong (Tenis Meja) dan kebetulan juga bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia yakni 17 Agustus 2022, ulang tahun NKRI (Negara Kesatuan Repukbil Idonesia) yang ke-77. Banyak sekali orang tua di tempatku tinggal bermain pimong ini dan dari itulah aku menemukan orang yang sangat pandai dalam bermain pimpong (Tenis Meja) ini, tidak menutup kemungkinan dari anak muda beserta orang tua. Kebanyakan yang pandai dalam bermain olahraga ini yaitu orang tua. Karena, permainan olahraga pimpong (Tenis Meja) ini sudah terkanal sejaak dulu dan kini sudah meredup di masyarakat. Sebab sudah berkembangnya teknologi di dunia ini, bukannya sudah menghilang akan tetapi hanya sedikit berkurang. Toh anak zaman sekarang kebanyakan bermain Handphone, ke cafe dan lain sebagainya.

 

            Olahraga pimpong (Tenis Meja) ini pertama kali dibentuk di Inggris tepatnya pada abad ke-19. Olahraga tersebut kemudian mampu dikembangkang oleh tentara Inggris saat bertugas di India maupun di Afrika Selatan. Tenis meja sendiri memiliki nama lain yaitu Whiff whaff. Istilah olahraga ini baru hadir saat memasuki tahun 192101922. Kala itu di bangun organisasi pemain ping pong. Namun beberapa sumber berpendapat bahwa olahraga ini terbit pada tahun 1902  dan diberhentikan 3 tahun setelahnya. Seiiring berjalannya waktu pada tahun 1926 organisasi ini di terbitkan kembali yang bernama Organisasi Tenis Meja Internasional dan diprakasai oleh Jerman. Lalu terbentuklah Organisasi ITTF ( International Table Tenis Federation) di tahun yang sama juga untuk pertama kalinya lomba kejuaraan  tingkat dunia di adakan dengan London dan Inggris menjadi tuan rumah penyelenggara.

 

            Minggu ke tiga ini juga menjadi minggu yang sangat full kegiatan, dari rutinitas yang aku jalani sampai rutinitas baru. Pada saat aku asik bermain pimpong datanglah abang-abang yang terlihat sangat biasa saja, dia melihat orang kompekku bermain beserta aku juga. Setelah memakan waktu sekitar setengah jam, akhirnya giliran abang tersebut main dan kebetulan dia bermain dengan salah satu juara 17 agustus di komplekku yaitu Pak Dong. Pada saat set pertama permainan di menangi oleh Pak Dong, terlihat abang tersebut hanya bermain seperti layaknya orang biasa yang sekedar pandai main saja tidak lihai atau ahli dalam bermain pimpong ini. Ketika masuk set kedua inilah abang tersebut mengeluarkan taringnya. Point 0-0 di buat olah abang tersebut dengan bola putar, sontak semua orang terkaget dengan itu, Pak Dong terlihat kewalahan mengambil bola putar tersebut. akan tetapi, yaa namanya juga juara 1 di komplek Pak Dong bisa mengambil bola tersebut. terlihat abang tersebut tersenyum tipis melihat Pak Dong mengambil bola yang telah di servis.

 

Setelah lamanya bermain di set kedua ini , akhirnya dimenangi oleh abang tersebut. pada saat yang bersamaan Pak Dong mulai serius dengan permainan itu. “Okeee, apakah ini pertandingan seirus” ujar pak Man (RT Komplek), akhirnya set ketiga dimulai, yang di buat olehlupakdonbolatidak mau kalah juga Pak Dong mengeluarkan bola putarnya, akan tetapi sangat mudah sekali di ambil oleh abang tersebut. di kembalikan lagi dengan bola putar oleh abang tersebut dan akhirnya pada set ketiga ini mereka berdua saling beradu mekanik, ketika meraka melanjutkan pemainan itu. Semakin banyak orang komplek menonton mereka berdua, sangat ramai sekali orang menonton meraka bermain, aku akui permainan meraka berdua sangatlah big match. Setiap kali meraka berdua servis orang-orang yang menonton bersorak layaknya menonton pertandingan besar. 25 menit berlalu akhirya permainan meraka berdua selesai dan di menangi oleh… Abang tersebut.

 

            Setlah meraka berdua selesai, akhrinya meja, net dan perlengkapan lainya di kemas. Karena, jam sudah menunjukan pukul 17.00 WIB. Saat berkemas, abang itu dan bapak-bapak mengobrol sambil menyakat Pak Dong yang kalah dari abang tersebut, Pak Dong hanya bisa tertawa sambil berkata “Wajar saya kalah, dia ini atlet Telok Pakedai”. Bapak-bapak laen pun langsung kembali menyakat kembali Pak Dong. Setelah aku selesai, aku langsung membawa meja pimpong kerumahku dan langsung membungkus kembali meja pimpong dengan plastic, dikarenakan jika tidak di bungkusnya benjolan-benjolan kecil yang membuat meja pimpong menjadi rusak. Jadi, di minggu ketiga kegiatan yang ku lakukan setiap hari tapatnya di waktu sore ialah bermain pimpong bersama orang komplekku. Di minggu ketiga ini juga aku mulai kembali aktif bermain olahraga tenis meja (pimpong) ini, rasa gairah ingin bermain lagi bergejolak kembali, akhirnya aku mengumpulkan uang untuk mengganti bet (raket) tenis meja dengan harga yang di bandroll 300ribu. Akan tetapi, uang yang aku kumpulkan tidak lah cukup untuk membeli bet (raket) tenis meja tersebut, maka dari itu aku berinisiatif untuk kembali berjualan.

 

Keesokan harinya, masih di minggu ketiga. Aku bangun di pagi hari dengan niatan untuk bertanya kepada ibuku. Apakah bisa aku menitipkan jualan di sekolah, tempat ibuku mengajar. Dengan sigap di iringi ekspresi senang aku menghampiri ibuku. “Buu,apakah bisa aku menitip jualan di kantin sekolah?” tanyakku. Dengan cepat ibuku menjawab “Bisa, kamu ingin jualan apa?” Tanya ibuku, “Aku akan jualan telur gulung dan setiap hari aku hanya jualan 20 tusuk telur gulung saja” jawabku dengan muka gembira. “Baiklah, mulai besok kamu akan berjualan di kanti sekolah ibu. Tapi ingat, kamu harus sudah ada di kantin jam 08.00 WIB” ujar ibuku. tanpa berlama-lama dengan cepat aku menjawab “Siap Boss” jawabku dengan sambil tertawa.

 

            Hari itu juga aku langsung membeli segala persedian untuk jualan, yang terdiri dari telur, minyak goring, tusuk sate, sambal, kecap dan bumbu penyedap. Seharian aku mencari kesana kemari agen-agen telur beserta minyak goreng. Karena dulu aku pernah membuaka bisnis kecil-kecilan yang dimana aku menjual segala macam jajanan telur salah satunya terlu gulung tersebut. setelah sekian lama akhirnya aku mendapatkan dua tempat agen telur dan satu tempat agen minyak goreng, akan tetapi walaupun semua minyak goreng sama harga penjualannya walaupun berbeda Rp1.500,- atau Rp2.000,-. Pada modal pertama ini aku menggunakan uang sisaku yang hanya berjumla Rp30.000,- aku kira modalnya cukup akan tetapi, aku sempat terkejut ternyata total semuanya yakni Rp55000,-. Setelah mengetahui modalku kurang, aku langsung menghampiri ibuku yang sedang mengajar anak kelas 5SD. “Buu, uang modalku kurang Rp.25.00,-. Bolehkah aku meminjam duit ibu dulu, nanti hasil pendapatan jualan besok akanku ganti uangnya” mintaku dengan wajah sedih. Ibuku menjawab “Ooo, ambil aja di tas ibu. Di ruang guru, ambil Rp25.000”. tanpa berlama-lama aku langsung mengambil uangnya dan langsung pergi membeli persiapan yang belum aku beli tadi. Setelah memakan waktu 15 menit dan jam menunjukan pukul 11.30 WIB, tibalah aku di rumah dengan segala persiapan untuk jualanku besok. Akupun masuk kerumah, langsung dudok di dapur dan meletakkan persedian untuk besok jualan sekaligus aku mendata total harga yang aku beli tadi. Benar saja totalnya semua  Rp55.000,- lalu, aku langsung meletakkan telur di lemari tempat ibuku menyimpan bawang putih&merah beserta telur dan alat dapur lainya, setelah itu aku menyimpan tusu sate di tempatku biasa menyimpan ­persedian cemilan yang biasanya cemilan itu untukku mengerjakan tugas saat malam, lalu aku menyimpan minyak dan bumbu penyedap tempatnya sama seperti aku menyimpan telur dan yang terakhir aku menyimpan sambal dan kecap di kulkas.

 

            Setelah semuanya telahku simpan, aku langsung menunaikan ibadah sholat wajib yakni sholat Dzuhur. 15 menit berlalu, aku selesai menunaikan ibadah sholat Dzuhur dan langsung baring di Kasur, sambil membayangkan apakah jualanku akan laris manis atau tidak. Sambil menunggu sore aku membuka Instagram mencari video-video orang jualan telur gulung atau cilor dan lain sebagainya.

 

3 jam kemudian…

 

Tibalah waktu Ashar, aku langsung menunaikan ibadah sholat lalu setelah itu seperti biasanya aku bermain kembali tenis meja. Akan tetapi, di hari ini ada sedikit yang berbeda. Karena, bapak-bapak komplek yang ingin bermain itu, semuanya membawa bet tenis meja (raket) masing-masing sekaligus ingin menantang abang-abang yang telah aku ceritakan di atas. “Dek, cepat keluarkan mejanya. Aku sudah tidak sabar main nih” ujar bapak-bapak komplek, tanpa berlama-lama aku langsung menyimpan sarung dan kopiah, lalu mengeluarkan meja pimpong (tenis meja). Setalah memakan waktu sekitar 5/10 menit, meja pimpong siap di mainkan. Dengan waktu yang bersamaan abang tersebut keluar dan langsung di panggil oleh bapak-bapak komplek “Oi Bang, sini lawan aku” ujar bapak-bapak komplek, dengan memasang raut wajah gembira abang tersebut langsung menganggukan kepala sembari berjalan menuju tempat kami bermain.

 

“Aduhhh, biarkan dulu lah yang punya main dulu” ujar pak RT.

 

Dengan ucapan pak RT akhirnya aku dapat kesampatan main pertama dengan bang tersebut. “Bang main spin bang ya?” tanyaku, abang itu pun langsung menjawab “Oke, kasih aku bola rendah biar aku susah nge-smash” permintaan abang tersebut. setelah itu main lah aku, ibaratkan pemanasan aku meminta pola permainan spin satu kamar. Setelah memakan waktu 5 menit, akhirnya tibalah bermain dengan serius. Singkat cerita permainan di menangkan oleh abang tersebut, aku melihat tidak ada sedikitpun keringan keluar dari tubuh abang tersebut, setelah bermain dengan bapak-bapak akhirnya keluar juga keringat abang tersebut. begitulah kegiataanku di minggu ke tiga.

            Masuk minggu ke empat, aku sudah mulai berjualan di pagi hari tepatnya pukul 08.00 WIB, aku sudah bersiap membuat telur gulung dan sesuai target aku membuat 40 tusuk telur guulung dan langsung mengantarkannya ke kantik sekolah tempat ibuku mengajar yakni SDN 68 Pontianak Barat. Setelah mengantar jualanku, aku langsung pulang kerumah sekaligus membersihkan alat-alat masak yang telahku gunakan bekas aku jualan tadi. Saat aku menyuci, ponselku berdering, ternyata itu ibuku yang menelpon. “Dek, bikin lagi 30 tusuk, anak-anak ramai ingin membelinya”. Dengan semangat aku langsung cepat menyuci dan langsung buat kembali 30 tusuk telur gulung. Setelah itu langsung mengantarkannya kembali ke kantik sekolah ibuku.

 

15 menit kemudian, aku tiba di sekolah ibuku.

“Bangg, terlu gulung yah? Aku mau 5 tusuk” ujar anak Sd di sekolah ibuku. dengan rasa gembira akhrinya jualanku hari pertama ternyata sangat laris manis. Singkat cerita  aku selesai berjualan dan aku langsung kembali kerumah sambil membawa uang hasil jualanku hari ini dan ternyata semuanya melewati ekspetasi. Hasil jualanku melewati perkiraanku yakni pendapatakan ku di hari pertama Rp70.000,. Mungkin hanya itu cerita singkatku di semester ini. Sekian dan terima kasih.

 

Narasi Pengalaman Semester 4

  Nama   : Dede agustianto NIM      : 12001189 Kelas     : 5E PAI   Assalamualaikum wr.wb perkenalkan nama aku Dede agustianto. Sebe...