Nama :
Dede Agustianto
NIM :
12001189
Kelas :
PAI 3E
Assalamualaikum wr.wb perkenalkan nama aku
Dede agustianto. Sebelum aku menceritakan pengalaman selama melakukan
perkuliahan semester ini, saya ingin flashback dulu ke masa pertama kali aku
masuk perkuliahan semester pertama. Senin, 19 Oktober 2020 adalah hari pertama
aku masuk kuliah di Universitas IAIN Pontianak. Malam sebelum hari senin aku
bergadang karena aku sangat menyukai game Mobile Legends sehingga membuat aku
lupa dengan waktu istirahat di malam hari, sampai waktu subuh aku terbangun dan
melakukan ibadah sholat subuh setelah itu aku berifikir kalau tidur lagi
bakalan bangun telat karena lama sudah tidak sekolah jadi terbiasa dengan
sehabis subuh tidur lagi, yaa karena tidak ada kegiatan sehabis tamat SMA untuk
mengisi kegabutan hanya bergadang main game. Sehingga membuat ku mengurungkan
niat ku untuk tidur jadi aku memainkan Handphone (Gawai).
Tidak lama kemudian terjadi lah yang tidak
aku inginkan saat itu yaitu tertidur dan membuat aku bangun pukul 06.45 pada
saat itu aku lupa bahwa kuliah hari pertama pada hari itu, untung ada kawan
yang mengingat kan
“siap-siap kawan sebentar lagi kuliah hari
pertama”
langsung spontan aku mengingat bahwa
sekarang ini hari senin hari kuliah pertama, dengan cepat aku mandi, selesai
mandi aku langsung cepat-cepat memakai pakaian dan langsung memegang HandPhone
(Gawai).Dan ternyata oh ternyata kuliah hari pertama menggunakan WhatsApp
padahal aku sudah mendownload aplikasi Zoom dan Google meet, tapi tidak apa-apa
lah ada juga kemudahan nya terima kasih dosen ku.
Lanjut ke Mata Kuliah pertama yaitu Bahasa
Indonesia dengan dosen yang bernama ibu Farninda Aditya, M. Pd. Kesan pertama
yang lumayan menegangkan karena ya baru jadi mahasiswa rasanya deg-degan mana
takut telat, taku dosen garang dan takut bertanya. Di mulai dari absen
pelajaran Bahasa Indonesia aku melihat ibu Farninda garang menurut aku tetapi
garang nya pasti untuk mengajarkan anak-anak mahasiswa baru untuk kebaikan ya
walaupun kadang-kadang masih ada sifat waktu SMA suka melawan guru dan
lain-lain. Kembali ke pelajaran rupanya kesan pertama tidak buruk walaupun
absen telat ya insyaallah akan di perbaiki.
Waktu jam pertama pun habis. Lanjut Mata
Kuliah Bahasa Inggris, Nama dosen Mata Kuliah Bahasa Inggris adalah ibu Vibry
Andina Nurhidayah, S. PD., M.Hum. ngomong-ngomong Bahasa Inggris yaa kalian tau
la yang namanya Bahasa Inggris pasti Speak To English dan… kenyataan nya aku
hanya tau yes dan no, tetapi tidak apa la namanya juga belajar. Kesan pertama
kali ini lumayan enjoy karena yang pertama belum mengetahui apa-apa soal kuliah
online dan untung dosen Mata Kuliah Ini enjoy jadi kadang serius dan kadang
bergurau, pelajaran ini salah satu pelajaran yang ingin aku kuasai karne aku
bermain Game terkadang berjumpa dengan Orang Inggris jika aku menguasai Bahasa
Inggris yaa walaupun sedikit setidak nya aku bias berkomunikasi dengan Orang
Inggris dan bias juga menambah kawan lumayan ada sahabat pena kata orang-orang.
Untuk hari pertama kuliah seperti biasa
yaah tetap perkenalan, tapi perkenalan tahun ini berbeda di karenakan kondisi
sekarang sedang pandemi Covid (corona) jadi, perkenalan kuliah tahun ini
melalui media seperti zoom atau google meet. Tetapi ada yang beda di tahun ini
rasanya kurang menyenangkan jika awal-awal kuliah sudah online jadi kurang seru
gitu. Hari pertama kuliah pun selesai walaupun online tetapi mau tidak mau
harus di jalankan walaupun online.
Begitu lah kira-kira
pengalamanku saat pertama kali masuk kuliah di semester pertama, selanjutnya
aku akan menceritakan pengalamanku selama semester 2 ini. Pada saat itu virus
Corona atau biasa di sebut Covid-19 telah mengubah semua sendi kehidupan. Semua
aktivitas dilakukan secara online, karena adanya larangan keluar rumah guna
memutus mata rantai penyebaran virus yang telah menelan banyak korban. Konsep
pendidikan juga berubah, tadinya proses belajar mengajar dilakukan secara tatap
muka, sekarang menggunakan berbagai aplikasi jejaring sosial.
Hal ini ternyata sangat membosankan
dirasakan sebagian besar mahasiswa Universitas IAIN Pontianak. Hal tersebut banyak
curhatan mahasiswa belajar daring dan banyak juga mahasiswa mulai mengeluhkan
proses perkulihan dilakukan secara daring. Mulai adanya kebosanan dengan sistem
ini, banyaknya tugas yang diberikan dosen, dan adanya kerinduan untuk berjumpa
dengan kawan-kawan serta ingin merasakan kuliah tatap muka yang menurut mereka
sangat membantu dalam memahami ilmu secara efektif.
Maka dari itu banyak
sekali mahasiswa yang berusaha mencari kerjaan sampingan untuk menutupi
kebosanan yang sedang kami jalani saat itu, adapun yang tidak mencari pekerjaan
sampingan akan tetapi mereka membuka bisnis kecil-kecilan untuk mencukupi
kebutuhan kuliah online ini. Maka dari itu aku kira awalnya mahasiswa tidak
mendapatkan kouta terkhusus kampusku yaitu IAIN Pontianak, akan tetapi tidak
lama kemudian kami mendapatkan bantuan kouta dari kampus yaa… walaupun
tahap-tahapnya memakan waktu yang lama tetapi cukuplah untuk kami yang tidak
mempunyai ekonomi yang berkecukupan untuk memenuhi kebutuhan kuliah online ini.
Setelah mendapatkan kouta itu pun aku
sedikit tidak khawatir tentang jaringan untuk proses perkuliahan. Akan tetapi,
di saat itu juga aku kembali berpikir untuk tidak selalu meminta uang apapun
kecuali uang bayar kuliah kepada orang tua ku. Tetapi di balik pemikiran itu
aku berfikir lagi jika aku mencari kerja sampingan apa akan bisa? jika aku ada
pekerjaan sampingan bisa jadi susah jika kuliah sambil kerja dengan tugas yang
selalu ada akan sulit membagi waktu tugas dan waktu istirahat dan bisa juga
menjadi mudah.
Aku pun sempat berfikir untuk tidak
berharap apapun kepada orang tua ku mengenai baju,laptop,handphone dan barang
lainya, semenjak tamat dari SMA aku sudah berniat untuk tidak meminta uang
kepada orang tua ku karena aku ingin belajar tidak bergantung kepada orang tu.
Seperti pola uang yang aku stop meminta karena banyak orang yang bisa jalan
waktu kuliah masih ada yang memakai duit orang tuanya, walaupun tidak semua
tetapi aku berfikir untuk tidak meminta nya. Walaupun itu membuat aku tidak
bisa ikut teman-temanku ngumpul ataupun jalan tetapi setidaknya aku mengurangi
ekonomi di keluarga ku.
Pada semester 2 ini juga
proses perkuliahan yang aku jalani kurang aku tekuni, dikarenakan aku dan
teman-temanku kembali mengadakan tournament game mobile secara online. Singkat
cerita setelah aku malas-malasan dalam kuliah dikarenakan kuliah online ini aku
dan teman-teman secepat mungkin mengadakan perlombaan tournament tesebut.
Hari pertama tournament game Mobile
Legends dan PUBG Mobile di lakukan secara online aku selaku panitia berkumpul
di cafe wak leman. Sejak hari itu aku melaksanakan tugas sebagai panitia dengan
tanggung jawab karena di saat itu aku memberanikan diri untuk mengambil pj game
mobile legend, hari pertama pertandingan adalah hari yang sangat meneganggkan
bagi aku pribadi. Karena aku harus esktra menyiapkan segala persiapan yang
harus di atur supaya acara tournament ini berjalan lancar, karena jika aku
gagal saat hari pertama gimana hari selanjutnya.
Pokoknya hari pertama ini bisa di bilang
hari di mana aku merasakan suasana tegang, aku berpikir apakah dengan aku
menjadi pj pada tournament kali ini akan berjalan lancar atau sebaliknya. Untungya
aku di bantu oleh temanku,
“setelah ini kamu lakukan ini dek..”
Setelah mendengar suruhan temanku aku
langsung mengerti dengan situasi yang sedang aku hadapi. Kondisi di saat itu
banyak sekali yang bisa aku ambil pelajarannya, salah satunya di mana aku harus
mau tidak mau pandai membaca situasi perlombaan online pada saat itu. Gimana caranya
melihat yang curang atau lain sebagainya, tidak terlepas teman-temanku lah yang
mengajari aku untuk mengerti situasi perlombaan secara online tersebut.
Tidak lupa juga pada saat itu aku
merasakan memegang uang hadiah dari tournament online tersebut, kebetulan
tournament online kali ini kami mendapatkan beberapa sponsor jadi hadiah online
kami tidak perlu kami pusingkan lagi. Akan tetapi di lain sisi, aku merasa pusing
dan takut memegang hadiah tournament pada saat itu, bukanya senang malah
sebaliknya. Aku berpikir apakah akan aman jika uang ini aku pegang dan apakah
uang hadiah ini tidak berkurang atau pun tidak nambah, meskipun kalau tiba-tiba
nambah yaa bagus kan. Maka dari sini lah aku merasa ohh begini ya rasanya
memegang uang sebanyak ini dan begini rasanya jika jadi bendahara yang memegang
uang di setiap acara apapun. Pada tournament saat ini aku sangat antusias acara
ini dan kebetulan perkuliahan online juga jadi aku rasa aku harus mencari
kesibukan makanya aku berani mengambil posisi pj tournament online kali ini,
hari pertama aku menjadi pj tournament aku di ajarkan untuk berbicara melalui
google meet dan kebetulan tournament kali ini yang aku bilang tadi kami lumayan
mendapatkan beberapa sponsor jadi tournament online ini lumayan mewah sedikit
lah. Makanya aku di ajarkan untuk berbicara di goggle meet karena 15 menit
sebelum pertandingan ada waktu untuk berbicara dengan player yang mengikuti
tournament saat itu.
Pada hari pertama itu lah aku rasa aku
harus bisa, harus bisa dan harus bisa. Aku akan tunjukan kepada teman-teman
yang meremehkan diri aku, dan buktinya… aku terbatah-batah saat google meet. Aku
pikir tidak apa-apalah toh acaranya tetap berjalan lancar, karena itu aku tidak
jadi insecure. Lalu aku langsung memulai perlombaan pada hari pertama. Singkat cerita
hari pertama selesai dan lanjut hari kedua.
Pada hari kedua aku
melakukan seperti biasanya dan hari kedua ini aku harus lebih baik dari hari
pertama dan seperti biasa aku melakukan tugasku sebagai pj mobile legend yang
telah di lakukan di hari petama di lakukan juga di hari kedua. Ada yang spesial
di hari kedua ini,yaitu aku di ajarkan untuk bisa pandai mengedit twibon,
padahal aku tidak mengerti apa yang di jelaskan oleh temanku tetapi aku tetap
bilang “oke oke oke paham”. Mau gimana lagi jika aku bilang tidak bisa-bisa aku
tidak di ajarkan caranya membuat twiban, tapi aku pikir aku harus pandai suatu
hari.
Lalu hari kedua perlombaan pun aku jalani
dengan mudah dan dengan sukses acara tournament itu, tournament online ini di
lakukan hanya 3 hari yang di mana, 2 hari untuk mobile legend dan 1 hari untuk
PES. Karena perlombaan PES sudah jarang muncul di daerah tempat tinggalku
makanya aku dan teman-teman sepakat untuk mengadakan PES saja, sekalian untuk
mencoba-coba apakah ramai. Jika ramai mungkin bisa di adakan untuk acara besar
di akhir tahun 2022.
Setelah aku menjadi Panitia Tournament
online itu aku tidak lupa juga dengan tugas-tugas kuliah yang sangat banyak, yahh
walaupun tidak sebanyak pada saat semester 1. Akan tetapi semester 2 ini aku
sudah mulai masuk ke tingkat kejenuhan karena aku berpikir semester 2 saja
masih online apa lagi semester 3, makanya aku bermalas-malasan di semester 2
itu bukan karena aku tidak memikirkan duit orang tuaku akan tetapi aku merasa
dengan kuliah online tidak semua orang bisa masuk ilmunya. Karena dari kelas
1SD sampai 3 SMA zamannya aku sudah sering dengan tatap muka, bukanya tidak mengikuti
aturan yang sudah ada akan tetapi apa salahnya jika masuk setengah dan
setengahnya tidak masok ataupun silahkan pilih yang ingin offline siapa-siapa
dan yang ingin online siapa-siapa, yaa mungkin nantinya akan banyak yang ingin
offline jadi pasti ada antisipasi jika yang ingin offline.
Makanya aku agak bermalas-malasan pada
semester 2 itu, akan tetapi banyak sekali yang bisa aku pelajari. Dari menahanya
hawa nasfu yang di mana saat awal-awal semester 1 aku sangat bernafsu untuk
pergi ke café atau pun keluar keluyuran kemana, yahh wajar lah baru-baru
merasakan menjadi mahasiswa. Tetapi beda dengan sekarang.
Semester 2 ini banyak sekali yang menurutku
hal-hal baru, dari proses belajar melalui online (daring) Di semester dua ini
sangat banyak tugas yang mengharuskan kami membentuk kelompok, hampir semua
mata kuliah menggunakan kelompok untuk membuat makalah yang kemudian akan di
presentasikan. Kami melewati berbagai macam tugas dengan berbagai tantangan
juga. Mulai dari materi yang sulit didapatkan, kuota yang pas-pasan, kelompok
kurang kompak, teman yang sulit dihubungi, presentasi kurang maksimal, grogi saat
harus on cam di google meet, kondisi jaringan internet
bermasalah. Kondisi jaringan internet yang berbeda beda di setiap daerah sangat
mempengaruhi berlangsungnya perkuliahan. Untuk mahasiswa yang tinggal di daerah
perkotaan tentu tidak akan terlalu bermasalah dengan jaringan internet, namun
untuk mahasiswa yang tinggal di daerah pedesaan terkadang cukup kesulitan untuk
menemukan jaringan yang bagus sehingga membuat kuliah online terganggu.
Melalui pembelajaran daring mahasiswa dapat belajar seperti biasanya dan
tidak akan ketinggalan materi perkuliahan, serta waktu yang lebih
fleksibel. Namun pembelajaran daring ini tidak sepenuhnya disambut baik
oleh para mahasiswa, karena ada sebagian mahasiswa yang menganggap pembelajaran
daring ini lebih menyulitkan dibandingkan dengan pembelajaran biasa, belum lagi
kuota internet harus tersedia dan ini adalah kesulitan terbesar yang dialami
mahasiswa, kendala pada jaringan, ketersediaan perangkat pembelajaran
seperti laptop, tingkat pemahaman materi yang dirasa lebih baik jika
melakukan kuliah tatap muka, dan juga tidak semua dosen dan mahasiswa siap
mengoperasikan sistem pembelajaran daring dengan cepat, termasuk juga
mempersiapkan bahan perkuliahan secara digital. Menurut berita yang saya
baca, Direktur Politani Samarinda, Hamka S.TP.,MP.,M.Sc. menjelaskan bahwa
berbagai upaya dilakukan untuk mengantisipasi keadaan ini, seperti
dikeluarkan kebijakan belajar dan bekerja dari rumah (WFH), Kuliah daring
sebagai salah satu solusi pembelajaran dimasa covid ini merebak,
kuliah daring memberikan pembelajaran jarak jauh dimana bahan kuliah yang
diberikan melalui perangkat teknologi tentu akan memudahkan bagi mahasiwa
untuk tetap mendapatkan perkuliahan tanpa tatap muka, lebih lanjut Hamka
kembali mengatakan Pilihan ini harus diambil untuk melakukan tindakan
pencegahan dan mitigasi yang efektif atas wabah yang kini telah menjadi pandemi
global, di antara kebijakan yang diambil ialah menonaktifkan kegiatan
perkuliahan di lingkungan kampus serta melakukan karantina mandiri mahasiswa,
dosen, dan tenaga kependidikan, karyawan lainnya dan termasuk tidak
melakukan pertemuan tetapi melakukan perkuliahan dan bimbingan secara daring,
meskipun pembelajaran daring ini hanya memberikan kemampuan teoritis, sehingga
bagi politeknik sendiri masih dirasa jauh untuk mendapatkan skill atau
kompetensi yang harus didapat jika praktek dengan model tatap muka.
Masalah lain juga dialami, yaitu Akibat sulit
dan kurang mengertinya pengoperasian media yang digunakan, banyak dosen yang
mengganti kuliahnya dengan memberikan mahasiswanya banyak tugas. Akibatnya
jumlah tugas kuliah menumpuk, sehingga kurang maksimal dalam pengerjaannya,
belum lagi tugas yang deadline nya
cukup singkat. Disemester ini pun sulit menemukan kesalahan yang dikerjakan,
Karena sulitnya proses komunikasi saat kuliah online, banyaknya tugas yang
diberikan dosen tanpa adanya feedback.
Hal ini seakan cuma formalitas semata bagi sebagian dosen, memberikan tugas,
dikumpulkan, setelah itu diberikan tugas lagi tanpa adanya penjelasan mengenai
tugas tersebut. Mahasiswa pun dianggap seakan-akan sudah mengerti dan menguasai
semua materinya.
Metode UTS yang digunakan pada semester ini kurang lebih sama pada
semester sebelumnya, namun lebih banyak diberikan soal dan tugas makalah untuk
individu, belum lagi kami diberikan tugas video. Menurutku, tugas video inilah
yang sangat susah karena kurang paham untuk mengedit agar video tersebut tidak
bosan dilihat. Akhirnya aku meminta bantuan teman untuk mengedit video
tersebut. kendala lainnya juga dirasakan karena besarnya ukuran file video,
jadi cukup sulit untuk mengirimnya melalui WAG. Teman-teman lain pun juga
kesulitan untuk mendownload file tersebut.
Kami juga diberi kesempatan untuk melakukan webinar yang belum pernah
kami lakukan disemester sebelumnya, aku mendapat tugas sebagai panelis yang
mengharuskan aku harus bisa menguasai materi yang akan dibicarakan. Aku sangat
gugup karena webinar ini gabungan dari kelas D dan E, dimana aku tidak mengenal
mereka semua dengan baik.
Di semester 2 ini juga aku sempat masuk ke dalam organisasi kampus yang
bernamakan UKM OLAHRAGA, di karenakan latar belakang keluargaku yang semuanya
menyukai semua jenis olahraga jadi makanya aku masuk ke UKM olahraga ini. Karena
aku pikir jika aku masuk Organisasi aku perkuliahan aku pasti tidak akan
terganggu dan kegiatan di sana pun pastinya positive semua toh semuanyakan
olahraga jadi staminaku pasti terjaga. Tidak lama kemudian dari UKM ini akan diadakan
Pengukhan yang di mana Pengukuhan ini bisa di sebut proses pengukuhan untuk
menjadi anggota tetap dari UKM olahraga ini dan akhrinya aku tidak dapat mengikuti
Pengukuhan tersebut kada faktor ekonomi yang pada saat itu tidak memungkinkan
aku untuk mengikuti kegiatan terakhir itu yaitu Pengukuhan tersebut, akan
tetapi aku tetap di anggap sebagai anggota UKM tetapi aku di anggap sebagai
partisipan. Istilah partisipan ini bisa di artikan orang yang tidak mengikuti
pengukuhan tetapi orang ini selalu aktip
makanya di sebut dengan partisipan.
Jadi, pada saat semester 2 itu aku
mendapatkan banyak sekali pelajaran yang di bahas di luar dari perkuliahan yang
bisa di sebut dengan banyak sekali pengalaman yang aku dapatkan, salah satunya
yaitu bagaimana cara mengatur uang di masa pandemic dan caranya mendapatkan
pengetahuan seperti bagaimana cara berbicara di depan umum, sopan santun dan
ikhlas. Menurutku ini adalah suatu pengalaman yang sangat menguntungkan,
bukanya untung 1 atau 2 hari. Akan tetapi untungnya bisa sampai anak-anak aku
nanti
Ada
satu lagi yang aku dapatkan di semester 2 yakni, pada saat di penghujung
semester ini ada beberapa teman-temanku yang lagi mencari teman yang di saat
mereka susah apakah ada teman yang sering nongkrong membantunya dan ternyata
temanku bercerita.
“saran aku dek, mau seberapa banyaknnya
teman. Terkadang teman sejati tidak muncul di saat senang akan tetapi
sebaliknya dan banyak juga orang yang lupa temannya pada saat dia senang”
Dari situ aku sangat memikirkan
perkataanya, terkadang memang betul dan terkadang salah. Pemikiran setiap orang
berbeda-beda kita tidak bisa memaksakannya yaa begitulah pertemanan di saat
ini. Ada yang datang di saat senangnya ada juga datang di saat susahnya, jadi
kita sendiri harus pandai memilih yang mana teman, kawan dan sahabat.
Banyak sekali mahasiswa
yang mengeluh dengan perkuliah online ini bahkan dosen pun ada yang mengeluh
karena perkuliahan daring ini, di karenakan tidak semua dosen yang memahami
teknologi saat ini makanya ada beberapa dosen yang mengeluh juga. Maka dari itu
perkuliahan online (daring) ini bisa di bilang bagus dan bisa juga di bilang
tidak bagus, mau gimana lagi kita sebagai rakyat harus mematuhi perintah yang
telah di tetapkan oleh pemerintah.
Jadi, harapan saya mengalami dengan
perkuliahan online ini. Tolong di fasilitasi bagi teman-teman yang berada di
kampung ataupun teman-teman yang ekonominya terbatas untuk membeli kouta,
bukanya apa kasihan teman-teman yang ada keinginan besar untuk kuliah secara
online tetapi di batasi dengan ekonomi yang sangat terbatas. Namun
situasi sekarang sangat memberi beban pada mahasiswa dan membuat pengalaman
perkuliahan menjadi sesuatu yang membosankan, bahkan bisa sampai pada titik
kejenuhan dan berdampak pada tidak berkualitasnya pendidikan yang diperoleh.
Mahasiswa terengah-engah mengikuti proses pembelajaran. Dalam sekejap tugas
menumpuk. Mereka dituntut bertransformasi jadi pembelajar mandiri dalam waktu
semalam.
Diharapkan semoga
pembelajaran melalui online ini dapat lebih maksimal lagi, baik mahasiswa
maupun dosen.
Menghadapi situasi
seperti ini, aku sangat berharap jika mahasiswa semester 3 yang sama sekali
belum pernah merasakan kuliah tatap muka ini segera kuliah luring atau tatap
muka. Mungkin sudah setahun ini aku sudah terbiasa dengan kuliah online, namun
harapan untuk beradaptasi dengan hal baru sangat diinginkan, bukan soal
kenyamanan atau tidak nyaman, namun sudah seharusnya kami mendapatkan fasilitas
yang seharusnya didaptkan agar materi pun didapatkan dengan baik, tugas
dikerjakan dengan baik, bukan hanya sebatas menggugurkan kewajiban saja. Semoga
pandemi ini pun segera berakhir, bukan hanya dunia perkuliahan, namun semua
jenjang pendidikan juga mengalami kesulitan saat kuliah online, maka dari itu
semoga pendidikan di Indonesia ini lebih baik lagi. Dan semoga semua juga bisa
menerima kondisi seperti ini.