Kamis, 15 September 2022

Narasi Pengalaman Semester 4

 

Nama  : Dede agustianto

NIM     : 12001189

Kelas    : 5E PAI

 

Assalamualaikum wr.wb perkenalkan nama aku Dede agustianto. Sebelum aku menceritakan pengalaman selama melakukan perkuliahan semester ini, saya ingin flashback dulu ke masa semester dua dan tiga, yang pertama di semester satu.

Aku masuk perkuliahan semester pertama. Senin, 19 Oktober 2020 adalah hari pertama aku masuk kuliah di Universitas IAIN Pontianak. Malam sebelum hari senin aku bergadang karena aku sangat menyukai game Mobile Legends sehingga membuat aku lupa dengan waktu istirahat di malam hari, sampai waktu subuh aku terbangun dan melakukan ibadah sholat subuh setelah itu aku berifikir kalau tidur lagi bakalan bangun telat karena lama sudah tidak sekolah jadi terbiasa dengan sehabis subuh tidur lagi, yaa karena tidak ada kegiatan sehabis tamat SMA untuk mengisi kegabutan hanya bergadang main game. Sehingga membuat ku mengurungkan niat ku untuk tidur jadi aku memainkan Handphone (Gawai).

 

Tidak lama kemudian terjadi lah yang tidak aku inginkan saat itu yaitu tertidur dan membuat aku bangun pukul 06.45 pada saat itu aku lupa bahwa kuliah hari pertama pada hari itu, untung ada kawan yang mengingat kan

“siap-siap kawan sebentar lagi kuliah hari pertama”

langsung spontan aku mengingat bahwa sekarang ini hari senin hari kuliah pertama, dengan cepat aku mandi, selesai mandi aku langsung cepat-cepat memakai pakaian dan langsung memegang HandPhone (Gawai).Dan ternyata oh ternyata kuliah hari pertama menggunakan WhatsApp padahal aku sudah mendownload aplikasi Zoom dan Google meet, tapi tidak apa-apa lah ada juga kemudahan nya terima kasih dosen ku.

 

Lanjut ke Mata Kuliah pertama yaitu Bahasa Indonesia dengan dosen yang bernama ibu Farninda Aditya, M. Pd. Kesan pertama yang lumayan menegangkan karena ya baru jadi mahasiswa rasanya deg-degan mana takut telat, taku dosen garang dan takut bertanya. Di mulai dari absen pelajaran Bahasa Indonesia aku melihat ibu Farninda garang menurut aku tetapi garang nya pasti untuk mengajarkan anak-anak mahasiswa baru untuk kebaikan ya walaupun kadang-kadang masih ada sifat waktu SMA suka melawan guru dan lain-lain. Kembali ke pelajaran rupanya kesan pertama tidak buruk walaupun absen telat ya insyaallah akan di perbaiki.

 

Waktu jam pertama pun habis. Lanjut Mata Kuliah Bahasa Inggris, Nama dosen Mata Kuliah Bahasa Inggris adalah ibu Vibry Andina Nurhidayah, S. PD., M.Hum. ngomong-ngomong Bahasa Inggris yaa kalian tau la yang namanya Bahasa Inggris pasti Speak To English dan… kenyataan nya aku hanya tau yes dan no, tetapi tidak apa la namanya juga belajar. Kesan pertama kali ini lumayan enjoy karena yang pertama belum mengetahui apa-apa soal kuliah online dan untung dosen Mata Kuliah Ini enjoy jadi kadang serius dan kadang bergurau, pelajaran ini salah satu pelajaran yang ingin aku kuasai karne aku bermain Game terkadang berjumpa dengan Orang Inggris jika aku menguasai Bahasa Inggris yaa walaupun sedikit setidak nya aku bias berkomunikasi dengan Orang Inggris dan bias juga menambah kawan lumayan ada sahabat pena kata orang-orang.

 

Untuk hari pertama kuliah seperti biasa yaah tetap perkenalan, tapi perkenalan tahun ini berbeda di karenakan kondisi sekarang sedang pandemi Covid (corona) jadi, perkenalan kuliah tahun ini melalui media seperti zoom atau google meet. Tetapi ada yang beda di tahun ini rasanya kurang menyenangkan jika awal-awal kuliah sudah online jadi kurang seru gitu. Hari pertama kuliah pun selesai walaupun online tetapi mau tidak mau harus di jalankan walaupun online.

 

Begitu lah kira-kira pengalamanku saat pertama kali masuk kuliah di semester pertama, selanjutnya aku akan menceritakan pengalamanku selama semester 2 ini. Pada saat itu virus Corona atau biasa di sebut Covid-19 telah mengubah semua sendi kehidupan. Semua aktivitas dilakukan secara online, karena adanya larangan keluar rumah guna memutus mata rantai penyebaran virus yang telah menelan banyak korban. Konsep pendidikan juga berubah, tadinya proses belajar mengajar dilakukan secara tatap muka, sekarang menggunakan berbagai aplikasi jejaring sosial.

 

Hal ini ternyata sangat membosankan dirasakan sebagian besar mahasiswa Universitas IAIN Pontianak. Hal tersebut banyak curhatan mahasiswa belajar daring dan banyak juga mahasiswa mulai mengeluhkan proses perkulihan dilakukan secara daring. Mulai adanya kebosanan dengan sistem ini, banyaknya tugas yang diberikan dosen, dan adanya kerinduan untuk berjumpa dengan kawan-kawan serta ingin merasakan kuliah tatap muka yang menurut mereka sangat membantu dalam memahami ilmu secara efektif.

 

Selanjutkan ceritaku di semester 3 yakni, memperpanjang cerita yang telah aku tulis di semester 1. Dengan menambahkan ceritanya jadi semakin jauh dan semakin menarik. Karena pada saat kami berbincang, bang fajar berkata “ujung dari ceritanya gantung de”. Makanya setelah itu tanpa kami sadari, kami berbincang-bincang soal cerita-cerita film seperti film Harry Poter, Jumanji, Fantastic Beast dan film fantasy lainya. Begitulah asal muasal dari kelanjutanya buku Terjebak Di Pulau Borneo ini. Setelah itu aku fokus memeperpanjang buku cerita itu. Hari demi hari aku mencari ide untuk memperpanjang cerita itu, dari menonton film action, comedy dan fantasy yang bisa membuat otak ku lancar.

 

Harapanku untuk semester berikutnya yang pertama adalah dilakukan kuliah tatap muka, karena sudah ada wacana akan dilakukan kuliah tatap muka disemester baru, namun tidak terasa aku sudah memasuki semester baru, yaitu semester ganjil atau semester tiga yang ternyata masih tetap sama, hanya wacana, lagi-lagi aku harus melakukannya secara online. Harapan lain, agar biaya UKT bisa diringankan dan memberikan info yang jelas.

Aku juga berharap agar perkulihan ini lebih banyak menggunakan whatsApp group karena lebih hemat kuota internet, menggunakan media yang memadai lainnya juga untuk memberikan penjelasan materi yang cukup dimengerti mahasiswa. Dari segi penilaian atau assesment diharapkan dosen dapat berlaku adil dan menghargai usaha dari para mahasiswanya. Dari segi tugas dan koreksinya, diharapkan dosen dapat memberikan feedback agar mahasiswa dapat mengetahui lebih jelas terhadap tugas yang sudah dikerjakan. 

tingkat keefektifannya yang bisa dikatakan relatif, tergantung dari masing-masing komponen yang menunjang atau turut serta dalam proses pembelajaran daring ini sehingga diharapkan pembelajaran ini membawa hasil yang terbaik meskipun dalam keterbatasan yang ada. Mahasiswa diharapkan mandiri dan lebih aktif belajar bukan hanya mengandalkan materi yang telah diberikan saja tetapi juga dari sumber lain. Dosen dan pihak Fakultas/Universitas hendaknya menyesuaikan kurikulum dengan keadaan saat ini sehingga perkuliahan daring tetap dapat dilaksanakan dan tidak terlalu membebani. Diperlukan pula model pembelajaran yang atraktif, aktif, dan dapat diterima oleh semua tipe mahasiswa. Pemerintah juga mengusahakan yang terbaik untuk menunjang keberlangsungan pembelajaran di masa pandemi COVID-19 ini, seperti contohnya pemberian subsidi kuota bagi siswa, guru, mahasiswa, maupun dosen tiap bulannya. Dalam jangka panjang, pembelajaran daring dapat membatasi kegiatan lapangan atau praktikum yang mendukung mata kuliah sehingga diperlukan inovasi pembelajaran campuran learning saat kondisi sudah mulai membaik dan memungkinkan pelaksanaan protokol kesehatan di kampus.

 

Namun situasi sekarang sangat memberi beban pada mahasiswa dan membuat pengalaman perkuliahan menjadi sesuatu yang membosankan, bahkan bisa sampai pada titik kejenuhan dan berdampak pada tidak berkualitasnya pendidikan yang diperoleh. Mahasiswa terengah-engah mengikuti proses pembelajaran. Dalam sekejap tugas menumpuk. Mereka dituntut bertransformasi jadi pembelajar mandiri dalam waktu semalam.

Diharapkan semoga pembelajaran melalui online ini dapat lebih maksimal lagi, baik mahasiswa maupun dosen.

 

Menghadapi situasi seperti ini, aku sangat berharap jika mahasiswa semester 3 yang sama sekali belum pernah merasakan kuliah tatap muka ini segera kuliah luring atau tatap muka. Mungkin sudah setahun ini aku sudah terbiasa dengan kuliah online, namun harapan untuk beradaptasi dengan hal baru sangat diinginkan, bukan soal kenyamanan atau tidak nyaman, namun sudah seharusnya kami mendapatkan fasilitas yang seharusnya didaptkan agar materi pun didapatkan dengan baik, tugas dikerjakan dengan baik, bukan hanya sebatas menggugurkan kewajiban saja. Semoga pandemi ini pun segera berakhir, bukan hanya dunia perkuliahan, namun semua jenjang pendidikan juga mengalami kesulitan saat kuliah online, maka dari itu semoga pendidikan di Indonesia ini lebih baik lagi.

 

 

Baiklah selanjutnya saya akan menceritakan kegiatan pada saat liburan semester 4 bulan lalu. Pada saat tibanya liburan semester 4, seperti biasanya saya memikirkan kembali mengenai buku yang telah saya tulis semenjak semester 3 yang belum selasai hingga sekarang ini. Entah kenapa, sangat sulit sekali untuk meneruskan cerita tersebut hingga selesai, sudah banyak film-film yang saya tonton untuk menjadi referensi buku tersebut agar menjadi cerita yang membuat pembacanya merasakan nuansa cerita masa kecil berserta di campurnya cerita-cerita mitos jawa. Tapi sebelum itu saya ingin menceritakan kegiatan apa saja yang saya lakukan pada saaat liburan semester lalu selain melanjutkan buku yang berjudul Terjebak Di Pulau Boreno.

 

            Hari pertama liburan semester aku menyendiri di rumah, sambil memikirkan kegiatan apa yang akan kulakukan selama satu bulan full ini. Setelah berjam-jam mikir akhirnya aku menemukan rencana yang telahku siapkan untuk satu bulan full ini. Antara lain, bangun pagi, olahraga, membaca buku yang berjudul Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo amat, ngopi bersama teman dan melanjutkan buku. Akan tetapi semua rencana itu hanya bertahan selama seminggu… Entah kenapa setiap aku merencanakan sebuah kegiatan, aku tidak bisa melaksanakan rencana tersebut bertahan lama. Hari pertama aku berhasil melakukan kegiatanku hingga hari ketujuh. Tibalah minggu kedua, aku sudah mulai tidak sesering minggu pertama melakukan kegiaatan ku di minggu pertama. Di minggu kedua ini sudah mulai berkurang kegiatanku bangun pagi beserta olahraga, akan tetapi rutinitas ngopi tetapku lakukan. Karena, di saat ngopi inilah pikiranku entah kenapa lancar jaya dan ide-ide tentang buku yang akan aku lanjutkan bisa aku kerjekan kembali dan tidak menutup kemungkinan dari hasil ngopi lah aku bisa melanjutkan buku walaupun yaaa, hanya sedikit yang bisaku lanjutkan. Lebih baik sedikit dari pada tidak sama sekali.

 

            Di minggu ketiga aku sudah mulai tidak terbiasa lagi membaca buku dan alhasil buku yang inginku lanjutkan sudah tidak tersentuh selama jenjang 2 atau 3 hari. Jadi, dalam waktu seminggu dalam minggu ketiga ini aku hanya menulis buku 2 atau 3 hari sekali, pada minggu ketiga ini lah ibuku membeli meja pimpong dan alhasil aku mendapatkan rutinitas olahragaku kembali walaupun olahraga ini hanya di waktu sore, kebetulan olahraga pimpong ini bisa di mainkan oleh semua kalangan mau orang tua atau anak muda. Selama satu minggu full di minggu ketiga ini setiap sore aku melakukan kegiatan olahgraga yakni olahraga pimpong (Tenis Meja) dan kebetulan juga bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia yakni 17 Agustus 2022, ulang tahun NKRI (Negara Kesatuan Repukbil Idonesia) yang ke-77. Banyak sekali orang tua di tempatku tinggal bermain pimong ini dan dari itulah aku menemukan orang yang sangat pandai dalam bermain pimpong (Tenis Meja) ini, tidak menutup kemungkinan dari anak muda beserta orang tua. Kebanyakan yang pandai dalam bermain olahraga ini yaitu orang tua. Karena, permainan olahraga pimpong (Tenis Meja) ini sudah terkanal sejaak dulu dan kini sudah meredup di masyarakat. Sebab sudah berkembangnya teknologi di dunia ini, bukannya sudah menghilang akan tetapi hanya sedikit berkurang. Toh anak zaman sekarang kebanyakan bermain Handphone, ke cafe dan lain sebagainya.

 

            Olahraga pimpong (Tenis Meja) ini pertama kali dibentuk di Inggris tepatnya pada abad ke-19. Olahraga tersebut kemudian mampu dikembangkang oleh tentara Inggris saat bertugas di India maupun di Afrika Selatan. Tenis meja sendiri memiliki nama lain yaitu Whiff whaff. Istilah olahraga ini baru hadir saat memasuki tahun 192101922. Kala itu di bangun organisasi pemain ping pong. Namun beberapa sumber berpendapat bahwa olahraga ini terbit pada tahun 1902  dan diberhentikan 3 tahun setelahnya. Seiiring berjalannya waktu pada tahun 1926 organisasi ini di terbitkan kembali yang bernama Organisasi Tenis Meja Internasional dan diprakasai oleh Jerman. Lalu terbentuklah Organisasi ITTF ( International Table Tenis Federation) di tahun yang sama juga untuk pertama kalinya lomba kejuaraan  tingkat dunia di adakan dengan London dan Inggris menjadi tuan rumah penyelenggara.

 

            Minggu ke tiga ini juga menjadi minggu yang sangat full kegiatan, dari rutinitas yang aku jalani sampai rutinitas baru. Pada saat aku asik bermain pimpong datanglah abang-abang yang terlihat sangat biasa saja, dia melihat orang kompekku bermain beserta aku juga. Setelah memakan waktu sekitar setengah jam, akhirnya giliran abang tersebut main dan kebetulan dia bermain dengan salah satu juara 17 agustus di komplekku yaitu Pak Dong. Pada saat set pertama permainan di menangi oleh Pak Dong, terlihat abang tersebut hanya bermain seperti layaknya orang biasa yang sekedar pandai main saja tidak lihai atau ahli dalam bermain pimpong ini. Ketika masuk set kedua inilah abang tersebut mengeluarkan taringnya. Point 0-0 di buat olah abang tersebut dengan bola putar, sontak semua orang terkaget dengan itu, Pak Dong terlihat kewalahan mengambil bola putar tersebut. akan tetapi, yaa namanya juga juara 1 di komplek Pak Dong bisa mengambil bola tersebut. terlihat abang tersebut tersenyum tipis melihat Pak Dong mengambil bola yang telah di servis.

 

Setelah lamanya bermain di set kedua ini , akhirnya dimenangi oleh abang tersebut. pada saat yang bersamaan Pak Dong mulai serius dengan permainan itu. “Okeee, apakah ini pertandingan seirus” ujar pak Man (RT Komplek), akhirnya set ketiga dimulai, yang di buat olehlupakdonbolatidak mau kalah juga Pak Dong mengeluarkan bola putarnya, akan tetapi sangat mudah sekali di ambil oleh abang tersebut. di kembalikan lagi dengan bola putar oleh abang tersebut dan akhirnya pada set ketiga ini mereka berdua saling beradu mekanik, ketika meraka melanjutkan pemainan itu. Semakin banyak orang komplek menonton mereka berdua, sangat ramai sekali orang menonton meraka bermain, aku akui permainan meraka berdua sangatlah big match. Setiap kali meraka berdua servis orang-orang yang menonton bersorak layaknya menonton pertandingan besar. 25 menit berlalu akhirya permainan meraka berdua selesai dan di menangi oleh… Abang tersebut.

 

            Setlah meraka berdua selesai, akhrinya meja, net dan perlengkapan lainya di kemas. Karena, jam sudah menunjukan pukul 17.00 WIB. Saat berkemas, abang itu dan bapak-bapak mengobrol sambil menyakat Pak Dong yang kalah dari abang tersebut, Pak Dong hanya bisa tertawa sambil berkata “Wajar saya kalah, dia ini atlet Telok Pakedai”. Bapak-bapak laen pun langsung kembali menyakat kembali Pak Dong. Setelah aku selesai, aku langsung membawa meja pimpong kerumahku dan langsung membungkus kembali meja pimpong dengan plastic, dikarenakan jika tidak di bungkusnya benjolan-benjolan kecil yang membuat meja pimpong menjadi rusak. Jadi, di minggu ketiga kegiatan yang ku lakukan setiap hari tapatnya di waktu sore ialah bermain pimpong bersama orang komplekku. Di minggu ketiga ini juga aku mulai kembali aktif bermain olahraga tenis meja (pimpong) ini, rasa gairah ingin bermain lagi bergejolak kembali, akhirnya aku mengumpulkan uang untuk mengganti bet (raket) tenis meja dengan harga yang di bandroll 300ribu. Akan tetapi, uang yang aku kumpulkan tidak lah cukup untuk membeli bet (raket) tenis meja tersebut, maka dari itu aku berinisiatif untuk kembali berjualan.

 

Keesokan harinya, masih di minggu ketiga. Aku bangun di pagi hari dengan niatan untuk bertanya kepada ibuku. Apakah bisa aku menitipkan jualan di sekolah, tempat ibuku mengajar. Dengan sigap di iringi ekspresi senang aku menghampiri ibuku. “Buu,apakah bisa aku menitip jualan di kantin sekolah?” tanyakku. Dengan cepat ibuku menjawab “Bisa, kamu ingin jualan apa?” Tanya ibuku, “Aku akan jualan telur gulung dan setiap hari aku hanya jualan 20 tusuk telur gulung saja” jawabku dengan muka gembira. “Baiklah, mulai besok kamu akan berjualan di kanti sekolah ibu. Tapi ingat, kamu harus sudah ada di kantin jam 08.00 WIB” ujar ibuku. tanpa berlama-lama dengan cepat aku menjawab “Siap Boss” jawabku dengan sambil tertawa.

 

            Hari itu juga aku langsung membeli segala persedian untuk jualan, yang terdiri dari telur, minyak goring, tusuk sate, sambal, kecap dan bumbu penyedap. Seharian aku mencari kesana kemari agen-agen telur beserta minyak goreng. Karena dulu aku pernah membuaka bisnis kecil-kecilan yang dimana aku menjual segala macam jajanan telur salah satunya terlu gulung tersebut. setelah sekian lama akhirnya aku mendapatkan dua tempat agen telur dan satu tempat agen minyak goreng, akan tetapi walaupun semua minyak goreng sama harga penjualannya walaupun berbeda Rp1.500,- atau Rp2.000,-. Pada modal pertama ini aku menggunakan uang sisaku yang hanya berjumla Rp30.000,- aku kira modalnya cukup akan tetapi, aku sempat terkejut ternyata total semuanya yakni Rp55000,-. Setelah mengetahui modalku kurang, aku langsung menghampiri ibuku yang sedang mengajar anak kelas 5SD. “Buu, uang modalku kurang Rp.25.00,-. Bolehkah aku meminjam duit ibu dulu, nanti hasil pendapatan jualan besok akanku ganti uangnya” mintaku dengan wajah sedih. Ibuku menjawab “Ooo, ambil aja di tas ibu. Di ruang guru, ambil Rp25.000”. tanpa berlama-lama aku langsung mengambil uangnya dan langsung pergi membeli persiapan yang belum aku beli tadi. Setelah memakan waktu 15 menit dan jam menunjukan pukul 11.30 WIB, tibalah aku di rumah dengan segala persiapan untuk jualanku besok. Akupun masuk kerumah, langsung dudok di dapur dan meletakkan persedian untuk besok jualan sekaligus aku mendata total harga yang aku beli tadi. Benar saja totalnya semua  Rp55.000,- lalu, aku langsung meletakkan telur di lemari tempat ibuku menyimpan bawang putih&merah beserta telur dan alat dapur lainya, setelah itu aku menyimpan tusu sate di tempatku biasa menyimpan ­persedian cemilan yang biasanya cemilan itu untukku mengerjakan tugas saat malam, lalu aku menyimpan minyak dan bumbu penyedap tempatnya sama seperti aku menyimpan telur dan yang terakhir aku menyimpan sambal dan kecap di kulkas.

 

            Setelah semuanya telahku simpan, aku langsung menunaikan ibadah sholat wajib yakni sholat Dzuhur. 15 menit berlalu, aku selesai menunaikan ibadah sholat Dzuhur dan langsung baring di Kasur, sambil membayangkan apakah jualanku akan laris manis atau tidak. Sambil menunggu sore aku membuka Instagram mencari video-video orang jualan telur gulung atau cilor dan lain sebagainya.

 

3 jam kemudian…

 

Tibalah waktu Ashar, aku langsung menunaikan ibadah sholat lalu setelah itu seperti biasanya aku bermain kembali tenis meja. Akan tetapi, di hari ini ada sedikit yang berbeda. Karena, bapak-bapak komplek yang ingin bermain itu, semuanya membawa bet tenis meja (raket) masing-masing sekaligus ingin menantang abang-abang yang telah aku ceritakan di atas. “Dek, cepat keluarkan mejanya. Aku sudah tidak sabar main nih” ujar bapak-bapak komplek, tanpa berlama-lama aku langsung menyimpan sarung dan kopiah, lalu mengeluarkan meja pimpong (tenis meja). Setalah memakan waktu sekitar 5/10 menit, meja pimpong siap di mainkan. Dengan waktu yang bersamaan abang tersebut keluar dan langsung di panggil oleh bapak-bapak komplek “Oi Bang, sini lawan aku” ujar bapak-bapak komplek, dengan memasang raut wajah gembira abang tersebut langsung menganggukan kepala sembari berjalan menuju tempat kami bermain.

 

“Aduhhh, biarkan dulu lah yang punya main dulu” ujar pak RT.

 

Dengan ucapan pak RT akhirnya aku dapat kesampatan main pertama dengan bang tersebut. “Bang main spin bang ya?” tanyaku, abang itu pun langsung menjawab “Oke, kasih aku bola rendah biar aku susah nge-smash” permintaan abang tersebut. setelah itu main lah aku, ibaratkan pemanasan aku meminta pola permainan spin satu kamar. Setelah memakan waktu 5 menit, akhirnya tibalah bermain dengan serius. Singkat cerita permainan di menangkan oleh abang tersebut, aku melihat tidak ada sedikitpun keringan keluar dari tubuh abang tersebut, setelah bermain dengan bapak-bapak akhirnya keluar juga keringat abang tersebut. begitulah kegiataanku di minggu ke tiga.

            Masuk minggu ke empat, aku sudah mulai berjualan di pagi hari tepatnya pukul 08.00 WIB, aku sudah bersiap membuat telur gulung dan sesuai target aku membuat 40 tusuk telur guulung dan langsung mengantarkannya ke kantik sekolah tempat ibuku mengajar yakni SDN 68 Pontianak Barat. Setelah mengantar jualanku, aku langsung pulang kerumah sekaligus membersihkan alat-alat masak yang telahku gunakan bekas aku jualan tadi. Saat aku menyuci, ponselku berdering, ternyata itu ibuku yang menelpon. “Dek, bikin lagi 30 tusuk, anak-anak ramai ingin membelinya”. Dengan semangat aku langsung cepat menyuci dan langsung buat kembali 30 tusuk telur gulung. Setelah itu langsung mengantarkannya kembali ke kantik sekolah ibuku.

 

15 menit kemudian, aku tiba di sekolah ibuku.

“Bangg, terlu gulung yah? Aku mau 5 tusuk” ujar anak Sd di sekolah ibuku. dengan rasa gembira akhrinya jualanku hari pertama ternyata sangat laris manis. Singkat cerita  aku selesai berjualan dan aku langsung kembali kerumah sambil membawa uang hasil jualanku hari ini dan ternyata semuanya melewati ekspetasi. Hasil jualanku melewati perkiraanku yakni pendapatakan ku di hari pertama Rp70.000,. Mungkin hanya itu cerita singkatku di semester ini. Sekian dan terima kasih.

 

Kamis, 21 Juli 2022

KEDERMAWANAN IMAM ABU HANIFAH

Abu Hanifah memiliki ilmu yang luas dalam semua kajian islam hingga ia merupakan seorang mujtahid besar (Imamul A’dham) sepanjang masa. Meskipun demikian, ia hidup sebagaimana layaknya orang lain dengan melakukan usaha berdagang untuk menafkahi keluarga. Ia juga sangat peduli terhadap keperluan kaum muslimin, terutama kepada mereka yang berakhlak mulia, yang mampu mengendalikan hawa nasfu, tidak goyah oleh jabatan dan kebesaran duniawi, dan selalu sabar dalam menghadapi berbagai cobaan. Meskipun ia berdagang, ia menjalani kehidupannya dengan zuhud, wara, dan taat beribadah. Abu Hanifah hidup dengan ilmu dan membimbing umat dengan penuh kepedulian, hidup dengan kemampuan sendiri, tidak membebani orang lain. Di samping menjalankan usaha dagaganganya, ia juga hidup dengan ibadah yang giat siang dan malam.

            Ketika Khalifah Al-Manshur akan mengangkat hakim agung, ia bermaksud memilih salah satu di antara empat ulama besar, mereka adalah Abu Hanifah, Sufyan Tsauri, Mis’ar bin Kidam, dan Syuarih. Ketika mereka berjalan bersama menemui Khalifah, Abu Hanifah berkata kepada para sahabatnya,

“Aku akan menolak jabatan ini dengan cara tertentu. Mi’sar menolaknya dengan berpura-pura menjadi gila, Sufyan Tsauri akan lari ke negeri lain, dan Syuraih diharapkan mau menerima jabatan ini.”

Sufyan lalu kabur pergi ke pelabuhan untuk naik kapal menuju negeri lain. Yang lain melanjutkan dan bertemu Khalifah dalam sebuah pertemuan resmi. Khalifah berkata kepada Abu Hanifah, “Engkau harus bersedia menjadi hakim agung”.

Abu Hanifah menjawab “Wahau Amirul-Mukminin, saya bukan orang arab, dan pemimpin-pemimpin Arab tidak akan menerima keputusan-keputusan saya. Karena itu, saya merasa bahwa saya tidak cocok memegang jabatan ini.” Ujar Abu Hanifah.

Khalifah berkata “Jabatan ini tidak ada kaitanya dengan masalah keturunan, melainkan berkaitan dengan keahlian. Dan engkau adalah seorang ulama terkemuka di masa ini.”

Abu Hanifah menjawab “Wahai Khalifah, apa yang baru saya katakan merupakan bukti tentang keberadaan saya. Jika telah saya katakan bahwa saya tidak cocok, dan juga telah kukatakan sebuah kebohongan tentu aku tidak dibenarkan seorang pendusta menjadi hakim atas kaum muslim, dan tidak dibenarkan pula engkau mempercayai pada kekayaan dan kehormatan yang engkau miliki.”

Lalu Mis’ar tampil ke muka dengan menjabat tangan Khalifah dan bertanya maca-macam yang tidak layak, sehinga Khalifah marah dan menyatakan gila, dan Khalifah tidak jadi meminta untuk manjadi hakim agung tersebut, dan menolak setiap alasan yang dikemukakannya.

            Abu Hanifah memang tidak menyukai jabatan dan tidak mau dibantu oleh penguasa. Ketika Abu Ja’far Al-Manshur menghadiahkan kepadanya 10.000 dirham, Abu Hanifah menolak. Seorang sahabatnya bertanya kepadanya “Engkau menolak pemeberian itu, padahal engkau berkeluarga.” Abu Hanifah menjawab “Saya serahkan keluarga saya kepada Allah, sedangkan makanan saya sebulan cukup dua dirham saya.”

            Pada suatu ketika Abu Hanifah mengirim barang dagang kepada mitra dagangnya. Di dalam barang dagangan tersebut ada sehelai kain yang cacat. Abu Hanifah memberitahukan kepada mitranya supaya menerangkan cacat kain itu, tetapi pembeli tidak mengetahuinya. Ketika Abu Hanifah mengetahui hal itu, ia segera bersedekah sebanyak 30.000 dirham. Demikian antara lain salah satu dari sisi kedermawannya.

Dalam kehidupannya, di samping memiliki akhlak dan tingkah laku mulia dan dermawan, ia juga selalu menjaga kesucian diri dan harta, di samping ia selalu dalam giat beriabah. Selama 40 tahun, Abu Hanifah memenuhi malam-malamnya dengan shalat, dan selama itu, shalat Subuhnya dilaksanakan dengan wudhu pada waktu Isya. Dan dalam sahalatnya itu dibacanya Al-Quran. Konon, ketika meninggal, ia telah mengkhatamkan Al-Quran sebanyak 7.000 kali.


Senin, 14 Maret 2022

Narasi Pengalaman Semester 3

Nama : Dede Agustianto
NIM : 12001189
Kelas : 3E PAI

Assalamualaikum wr.wb. Perkenalkan nama saya Dede Agustianto. Seperti biasa sebelum saya menceritakan pengalaman di semester 3, mari kita mengingat kembali pengalam di semester 2. Pada saat itu virus Corona atau biasa di sebut Covid-19 telah mengubah semua sendi kehidupan. Semua aktivitas dilakukan secara online, karena adanya larangan keluar rumah guna memutus mata rantai penyebaran virus yang telah menelan banyak korban. Konsep pendidikan juga berubah, tadinya proses belajar mengajar dilakukan secara tatap muka, sekarang menggunakan berbagai aplikasi jejaring sosial.

Hal ini ternyata sangat membosankan dirasakan sebagian besar mahasiswa Universitas IAIN Pontianak. Hal tersebut banyak curhatan mahasiswa belajar daring dan banyak juga mahasiswa mulai mengeluhkan proses perkulihan dilakukan secara daring. Mulai adanya kebosanan dengan sistem ini, banyaknya tugas yang diberikan dosen, dan adanya kerinduan untuk berjumpa dengan kawan-kawan serta ingin merasakan kuliah tatap muka yang menurut mereka sangat membantu dalam memahami ilmu secara efektif.

Maka dari itu banyak sekali mahasiswa yang berusaha mencari kerjaan sampingan untuk menutupi kebosanan yang sedang kami jalani saat itu, adapun yang tidak mencari pekerjaan sampingan akan tetapi mereka membuka bisnis kecil-kecilan untuk mencukupi kebutuhan kuliah online ini. Maka dari itu aku kira awalnya mahasiswa tidak mendapatkan kouta terkhusus kampusku yaitu IAIN Pontianak, akan tetapi tidak lama kemudian kami mendapatkan bantuan kouta dari kampus yaa… walaupun tahap-tahapnya memakan waktu yang lama tetapi cukuplah untuk kami yang tidak mempunyai ekonomi yang berkecukupan untuk memenuhi kebutuhan kuliah online ini.

Setelah mendapatkan kouta itu pun aku sedikit tidak khawatir tentang jaringan untuk proses perkuliahan. Akan tetapi, di saat itu juga aku kembali berpikir untuk tidak selalu meminta uang apapun kecuali uang bayar kuliah kepada orang tua ku. Tetapi di balik pemikiran itu aku berfikir lagi jika aku mencari kerja sampingan apa akan bisa? jika aku ada pekerjaan sampingan bisa jadi susah jika kuliah sambil kerja dengan tugas yang selalu ada akan sulit membagi waktu tugas dan waktu istirahat dan bisa juga menjadi mudah.

Aku pun sempat berfikir untuk tidak berharap apapun kepada orang tua ku mengenai baju,laptop,handphone dan barang lainya, semenjak tamat dari SMA aku sudah berniat untuk tidak meminta uang kepada orang tua ku karena aku ingin belajar tidak bergantung kepada orang tu. Seperti pola uang yang aku stop meminta karena banyak orang yang bisa jalan waktu kuliah masih ada yang memakai duit orang tuanya, walaupun tidak semua tetapi aku berfikir untuk tidak meminta nya. Walaupun itu membuat aku tidak bisa ikut teman-temanku ngumpul ataupun jalan tetapi setidaknya aku mengurangi ekonomi di keluarga ku. Pada semester 2 ini juga proses perkuliahan yang aku jalani kurang aku tekuni, dikarenakan aku dan teman-temanku kembali mengadakan tournament game mobile secara online. Singkat cerita setelah aku malas-malasan dalam kuliah dikarenakan kuliah online ini aku dan teman-teman secepat mungkin mengadakan perlombaan tournament tesebut.

Hari pertama tournament game Mobile Legends dan PUBG Mobile di lakukan secara online aku selaku panitia berkumpul di cafe wak leman. Sejak hari itu aku melaksanakan tugas sebagai panitia dengan tanggung jawab karena di saat itu aku memberanikan diri untuk mengambil pj game mobile legend, hari pertama pertandingan adalah hari yang sangat meneganggkan bagi aku pribadi. Karena aku harus esktra menyiapkan segala persiapan yang harus di atur supaya acara tournament ini berjalan lancar, karena jika aku gagal saat hari pertama gimana hari selanjutnya.

Pokoknya hari pertama ini bisa di bilang hari di mana aku merasakan suasana tegang, aku berpikir apakah dengan aku menjadi pj pada tournament kali ini akan berjalan lancar atau sebaliknya. Untungya aku di bantu oleh temanku,

“setelah ini kamu lakukan ini dek..” 

Setelah mendengar suruhan temanku aku langsung mengerti dengan situasi yang sedang aku hadapi. Kondisi di saat itu banyak sekali yang bisa aku ambil pelajarannya, salah satunya di mana aku harus mau tidak mau pandai membaca situasi perlombaan online pada saat itu. Gimana caranya melihat yang curang atau lain sebagainya, tidak terlepas teman-temanku lah yang mengajari aku untuk mengerti situasi perlombaan secara online tersebut. 

Tidak lupa juga pada saat itu aku merasakan memegang uang hadiah dari tournament online tersebut, kebetulan tournament online kali ini kami mendapatkan beberapa sponsor jadi hadiah online kami tidak perlu kami pusingkan lagi. Akan tetapi di lain sisi, aku merasa pusing dan takut memegang hadiah tournament pada saat itu, bukanya senang malah sebaliknya. Aku berpikir apakah akan aman jika uang ini aku pegang dan apakah uang hadiah ini tidak berkurang atau pun tidak nambah, meskipun kalau tiba-tiba nambah yaa bagus kan. Maka dari sini lah aku merasa ohh begini ya rasanya memegang uang sebanyak ini dan begini rasanya jika jadi bendahara yang memegang uang di setiap acara apapun. Pada tournament saat ini aku sangat antusias acara ini dan kebetulan perkuliahan online juga jadi aku rasa aku harus mencari kesibukan makanya aku berani mengambil posisi pj tournament online kali ini, hari pertama aku menjadi pj tournament aku di ajarkan untuk berbicara melalui google meet dan kebetulan tournament kali ini yang aku bilang tadi kami lumayan mendapatkan beberapa sponsor jadi tournament online ini lumayan mewah sedikit lah. Makanya aku di ajarkan untuk berbicara di goggle meet karena 15 menit sebelum pertandingan ada waktu untuk berbicara dengan player yang mengikuti tournament saat itu.

Pada hari pertama itu lah aku rasa aku harus bisa, harus bisa dan harus bisa. Aku akan tunjukan kepada teman-teman yang meremehkan diri aku, dan buktinya… aku terbatah-batah saat google meet. Aku pikir tidak apa-apalah toh acaranya tetap berjalan lancar, karena itu aku tidak jadi insecure. Lalu aku langsung memulai perlombaan pada hari pertama. Singkat cerita hari pertama selesai dan lanjut hari kedua.

Pada hari kedua aku melakukan seperti biasanya dan hari kedua ini aku harus lebih baik dari hari pertama dan seperti biasa aku melakukan tugasku sebagai pj mobile legend yang telah di lakukan di hari petama di lakukan juga di hari kedua. Ada yang spesial di hari kedua ini,yaitu aku di ajarkan untuk bisa pandai mengedit twibon, padahal aku tidak mengerti apa yang di jelaskan oleh temanku tetapi aku tetap bilang “oke oke oke paham”. Mau gimana lagi jika aku bilang tidak bisa-bisa aku tidak di ajarkan caranya membuat twiban, tapi aku pikir aku harus pandai suatu hari.

Setelah aku menjadi Panitia Tournament online itu aku tidak lupa juga dengan tugas-tugas kuliah yang sangat banyak, yahh walaupun tidak sebanyak pada saat semester 1. Akan tetapi semester 2 ini aku sudah mulai masuk ke tingkat kejenuhan karena aku berpikir semester 2 saja masih online apa lagi semester 3, makanya aku bermalas-malasan di semester 2 itu bukan karena aku tidak memikirkan duit orang tuaku akan tetapi aku merasa dengan kuliah online tidak semua orang bisa masuk ilmunya. Karena dari kelas 1SD sampai 3 SMA zamannya aku sudah sering dengan tatap muka, bukanya tidak mengikuti aturan yang sudah ada akan tetapi apa salahnya jika masuk setengah dan setengahnya tidak masok ataupun silahkan pilih yang ingin offline siapa-siapa dan yang ingin online siapa-siapa, yaa mungkin nantinya akan banyak yang ingin offline jadi pasti ada antisipasi jika yang ingin offline.

Makanya aku agak bermalas-malasan pada semester 2 itu, akan tetapi banyak sekali yang bisa aku pelajari. Dari menahanya hawa nasfu yang di mana saat awal-awal semester 1 aku sangat bernafsu untuk pergi ke café atau pun keluar keluyuran kemana, yahh wajar lah baru-baru merasakan menjadi mahasiswa. Tetapi beda dengan sekarang.

Semester 2 ini banyak sekali yang menurutku hal-hal baru, dari proses belajar melalui online (daring) Di semester dua ini sangat banyak tugas yang mengharuskan kami membentuk kelompok, hampir semua mata kuliah menggunakan kelompok untuk membuat makalah yang kemudian akan di presentasikan. Kami melewati berbagai macam tugas dengan berbagai tantangan juga. Mulai dari materi yang sulit didapatkan, kuota yang pas-pasan, kelompok kurang kompak, teman yang sulit dihubungi, presentasi kurang maksimal, grogi saat harus on cam di google meet, kondisi jaringan internet bermasalah. Kondisi jaringan internet yang berbeda beda di setiap daerah sangat mempengaruhi berlangsungnya perkuliahan. Untuk mahasiswa yang tinggal di daerah perkotaan tentu tidak akan terlalu bermasalah dengan jaringan internet, namun untuk mahasiswa yang tinggal di daerah pedesaan terkadang cukup kesulitan untuk menemukan jaringan yang bagus sehingga membuat kuliah online terganggu.
Melalui pembelajaran daring mahasiswa dapat belajar seperti biasanya dan tidak akan ketinggalan materi perkuliahan, serta waktu yang lebih fleksibel.  Namun pembelajaran daring ini tidak sepenuhnya disambut baik oleh para mahasiswa, karena ada sebagian mahasiswa yang menganggap pembelajaran daring ini lebih menyulitkan dibandingkan dengan pembelajaran biasa, belum lagi kuota internet harus tersedia dan ini adalah kesulitan terbesar yang dialami mahasiswa, kendala pada jaringan, ketersediaan perangkat pembelajaran seperti  laptop, tingkat pemahaman materi yang dirasa lebih baik jika melakukan kuliah tatap muka, dan juga tidak semua dosen dan mahasiswa siap mengoperasikan sistem pembelajaran daring dengan cepat, termasuk juga mempersiapkan bahan perkuliahan secara digital. Menurut berita yang saya baca, Direktur Politani Samarinda, Hamka S.TP.,MP.,M.Sc. menjelaskan bahwa berbagai upaya dilakukan untuk mengantisipasi keadaan ini,  seperti  dikeluarkan kebijakan belajar dan bekerja dari rumah (WFH).

Mungkin begitu saja, selanjutnya pengalaman saya di semester 3. Pada semester 3 ini tidak ada yang terlalu istimewa akan tetapi pada tahun ini ada beberapa peristiwa yang bisa di bilang membekas dan mendapatkan banyak sekali pelajaran hidup, terutama untk diriku pribadi. Pada saat hari pertama masuk di semester 3, terlintas di pikiranku untuk mencetak buku yang telah aku selesaikan di semester 1 dan kebetulan buku itu adalah buku karyaku sendiri yang berjudul Terjebak Di Pulau Borneo.

Akan tetapi itu di hambat dengan beberapa mata kuliah di semester 2, yang katanya pada semester ini akan diadakan observasi ke beberapa tempat bersejarah di Pontianak. Dan betul saja setelah UTS, ada pengumuman bahwa akan ada observasi setiap kelas. Akhirnya kami bisa dapat bersenang-senang dengan teman sekelas dan kebetulan aku belum pernah bertemmu dengan te,an-teman yang berada di kampung. Jadi, aku pikir ini adalah kesempatan yang bagus. Karena, aku sama sekali tidak mengenali temanku yang berada di kampung. Makanya kegiatan ini bisa di bilang lumayan berarti untuk diri aku sendiri, setelah itu singkat cerita tibalah hari kegiatan observasi itu.

Pada hari itu aku sudah menyiapkan segala perlengkapan yang akan di bawa untuk pergi ke kegiatan observasi tersebut. kebetulan sehari sebelum berangkat ada salah satu teman kelasku yang menginap di rumah aku, temanku tersebut bernama Yasser Defansa. Kebetulan dia menginap di rumahku dan Yaser sudah membawa segala barang persiapan untuk pergi kegiatan observasi tersebut, pada saat malam hari kamu berdua berjanji untuk tidak tidur sampai besok pergi berangkat observasi. Akan tetapi, takdir berkata lain. Karena, pada saat pukul 22.00 WIB. Lampu di area rumaku mati. Jadi, kami urungkan niat kami untuk tidak tidur.

Pagi pun tiba, aku dan Yasser bergegas siap-siap untuk pergi ke kampus. Karena sebelum pergi observasi kami satu kelas berkumpul di kampus IAIN Pontianak, lalu pergi bersama-sama menaiki bis angkutan umum. Singkat cerita kami sudah siap untuk berangkat pergi ke kampus dulu, akan tetapi ada beberapa halangan yaitu perut ku tiba-tiba berbunyi. Aku langsung mengajak Yasser untuk pergi makan nasi kuning dulu, setelah itu baru pergi ke kampus. Sesampainya di lokasi aku langsung memesan nasi kuning yang porsi jumbo sedangkan Yasser memesan porsi yang biasa saja. 

Lima belas menit berlalu, kami pun selesai sarapan. Setelah itu kami langsung bergegas karena jam sudah menunjukan pukul 06.30 WIB. Yasser langsung menghidupkan motor dan aku langsung bergegas membayar lalu naik ke motor, dengan cepat Yasser langsung mengebut sekencang-kencangnya. Mataku sampai keluar air mata saking kencangnya Yasser membawa motor. Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk Yasser membawa motor sampai ke kampus IAIN Pontianak. Sesampainya di sana, teman-teman sudah berkumpul dan sedang menunggu kedatangan bis tersebut. akan tetapi, lagi dan lagi ada saja halangan untuk memperlambat kami pergi kegiatan observasi tersebut.

Ternyata tanpa Yasser ketahui, tas yang dia bawa bolong di bagian bawahnya. Mau tidak mau Yasser harus pulang kerumahnya untuk mengganti tas yang tidak bolong, tanpa berpikir panjang Yasser langsung kembali menaiki motor dan mengebut sekencang-kencangnya. Aku berpikir, aku rasa hanya butuh waktu lima belas menit untuk Yasser sampai kerumahnya dan balik lagi ke kampus dan benar saja setelah lima belas menit berlalu terdengar suara motor dengan knalpot yang nyaring dari depan kampus, itu ternyata si Yasser yang mengebut. Karena takut di tinggalkan makanya dia buru-buru. Setelah itu akhrinya tibalah bis angkutan umum yang sudah kami sewa untuk satu kelas yang berjumlahkan 30 mahasiswa.

Akhirnya tepat pukul 07.30 WIB. Kami berangkat menuju beberapa tempat bersejarah di pontinak, salah satunya adalah Makam Sultan Syarif Abdruahman AlKadrie. Pada saat di perjalan kami sekelas sangat bergimbira, katanya dari kelas sebelah. Setelah observasi mahasiswa di perbolehkan untuk pergi ke tempat wisata dan benar saja pada saat di dalam bis, Pj mata kuliah sejarah pendidikan memberikan informasi setelah pergi ke 2 tempat bersejarah. Amanah dari bapak dosen kita pergi ke pantai samudera yang terletak di singkawang.

Singkat cerita kami sampai di tempat Makam Sultan Syarif Abdruahman AlKadrie, beliau adalah pendiri kota Pontianak ini, lahir pada tahun 1742 dan wafat pada tahum 1808. Sultan Syarif Abdurahman Alkadrie, merupakan putra dari Al Habib Husin. Seorang penyebar agama islam yang berasal dari arab. Masa kepemerintahnya, 27 oktober 1771 – 28 februari 1808. Di area ini juga terdapat makam keturunan Sultan Syarif Hamid II Alkadrie, yang merupakan tokoh pejuang di era kemerdekaam yang melawan Belanda. Beliau juga merupakan pendesain lambing negara Indonesia.

Pada Makam Sultan Syarif Abdurahman Alkadrie terbuat dari kayu belian bertingkat 2 dan terdapat ukiran tulisan arab di beberapa nisan yang menunjukan bahwa islam adalah landasan utama dari kesultanan. Budaya arab dan melayu teerpancar dari warna bangunan dan nisan, yaitu warna hijau dan kuning emas. Di makam tersebut juga di selimuti dengan kain berwarna kuning terang, makam tersebut sudah berusia ratusan tahun dan sudah banyak dilakukan perbaikan. Terdapat sebuah batu besar dan Meriam kuning di makam batu layang, selain itu makam inti untuk berziarah. Makam ini juga merupakan objek wisata Kalimantan Barat, untuk dapat menuju ke pemakaman batu layang, kita harus memasuki perkampungan sekitar 5 menit dari jalan raya. Letak bangunan tersebut berada di pinggir sungai Kapuas. Suasana di sana sangatlah tenang dan masih bisa dapat merasakan gambaran kejaayaan kesultanan.
Di pinggir sungai juga terdapat surau/aula, sehingga kita dapat khusyuk berdoa sambil mendengar suara alam yang masih sangat alami. Komplek makam sultan pun masih sangat terjaga kebersihannya dan keasrianya. Karena, jika kita ingin masuk ke makam sultan. Kita di wajibkan untuk melepas sepatu ketika ingin berziarah, makam beliau terletak di tengah-tengah antara semua makam dan dijaga oleh keturunan Sultan Syarif Abdurahman Alkadrie langsung secara bergiliran. Bagi penziarah yang ingin kesana, dapat mempersiapkan sejumlah uang untuk di bagikam, seandainya tidak berkenan maka lebih baik menyumbang di kotak yang telah di sediakan.

Di komplek pemakaman ini terdapat tujuh makam sultan yang di makamkan yakni :
1. Sultan Syarif Abdurahman Al Kadrie, selaku pendiri kesultanan kadariah (1742-1808)
2. Sultan Syarif Kasim Al kadrie, anak dari sultan pertama (1768-1819)
3. Sultan Syarif Oesman, sultan ke tiga (1777-1860)
4. Sultan Syarif Hamid I Al Kadrie
5. Sultan Syarif Yusuf Al Kadrie
6. Sultan Syarif Muhammad Al Kadrie
7. Sultan Syarif Hamid II (Wafat pada tahun 1978)
Diantara makam di sini, makam Sultan Syarif Abdurahman Al Kadrie lah yang menjadi pusat pemakaman. Makam beliau terdapat di suatu ruangan yang agak mirip seperti bunker dan ketika kita akan memasuki ruangan ini, jarak antara dinding langit-langit cukup rendah sehingga sewaktu memasuki ruangan terebut kita harus membungkuk. Melambangkan rasa hormat pada sultan, adapun keunikan lain dari pemakaman ini yakni. Ada beberapa makam yang tingginya melebihi tinggi orang dewasa alasan dari area pemakaman ini di namakan batu layang adalah adanya gundukan batu batu besar di luar area pemakaman. konon ceritanya batu ini dulunya berada di seberang pulau, tetapi berpindah dengan sendirinya ketempat yang sekarang. maka dari itulah kenapa dinamai batu layang. makam kesultanan Pontianak di Batu Layang merupakan aset kentiga dari warisan kesultanan Pontianak, sesudah Istana Kadariah dan Masjid Jami' Sultan Abdurahman. konon ketiga lokasi ini mempunyai letak dengan garis bujur dari istana, masjid dan makam dari arah timus ke barat. Komplek pemakaman ini juga khusu bagi para sultan Pontianak beserta keluarganya dan bukan di buka untuk umum. di samping makam Sultan Syarif Abdurahmna Al Kadrie terdapat makam istrinya yang bernama Putri Utin Chandramidi yang wafat padantahun 1246H/1830M. makam Sultan Syaruf Kasim berpagar kayu dan berkelambu kuning, disampingnya terdapat makam istri dan anaknya. begutupun dengan makam Sultan Suaruf Oesman yang dimakamkan pula bersama istri dan anaknya, yang berpagak khusus. Nisan Para sultan yang berbentuk gada, menunjukan kalau itu adalah makam seorang laki-laki dan nisan keluarga perempuan berbentuk pipih.

Setalah ke makam tersebut kami pergi ke pantai Samudera, di sana kami di suruh untuk menulis hasil observasi kami. Akan tetapi pada saat sampai itu hanya lah informasi. Bisa di bilang itu adalah observasi kerkedok liburan, akan tetapi di samping dari itu ada beberapa yang mengerjekan dan ada beberapa yang tidak.
Singkat cerita kami kembali ke Pontianak, sesampainya di Pontianak kami semua pulang kerumah masing-masing. Sesampainya di rumah, aku masih kepikiran untuk melanjutkan lagi tulisan buku aku, aku pun langsung mengirim pesan ke ibu Farninda sekaligus dosen mata kuliah Bahasa Indonesia pada saat semester 1. Alhamdulillah respon ibu farninda sangat baik, beliau menyuruh aku membenahi beberapa kalimat dari buku aku. Tanpa berpikir panjang aku langsung meminta bantuan temanku. Aku pun langsung pergi ke toko temanku yang bernama bang Fajar dan kebetulan dia adalah Kakak tingkat ku di kampus. Jadi, aku meminta bantuannya apakah buku yang aku tulis ini layak di tulisa atau tidak dan lain sebagainya. Setelah berbicara panjang lebar, akhirnya timbulah ide baru dan aku rasa ide ini sangat menantang dan bisa di bilang ide itu adalah suatu tantangan yang baru untuk diriku sendiri.

Yakni, memperpanjang cerita yang telah aku tulis di semester 1. Dengan menambahkan ceritanya jadi semakin jauh dan semakin menarik. Karena pada saat kami berbincang, bang fajar berkata “ujung dari ceritanya gantung de”. Makanya setelah itu tanpa kami sadari, kami berbincang-bincang soal cerita-cerita film seperti film Harry Poter, Jumanji, Fantastic Beast dan film fantasy lainya. Begitulah asal muasal dari kelanjutanya buku Terjebak Di Pulau Borneo ini. Setelah itu aku fokus memeperpanjang buku cerita itu. Hari demi hari aku mencari ide untuk memperpanjang cerita itu, dari menonton film action, comedy dan fantasy yang bisa membuat otak ku lancar.

Harapanku untuk semester berikutnya yang pertama adalah dilakukan kuliah tatap muka, karena sudah ada wacana akan dilakukan kuliah tatap muka disemester baru, namun tidak terasa aku sudah memasuki semester baru, yaitu semester ganjil atau semester tiga yang ternyata masih tetap sama, hanya wacana, lagi-lagi aku harus melakukannya secara online. Harapan lain, agar biaya UKT bisa diringankan dan memberikan info yang jelas. 
Aku juga berharap agar perkulihan ini lebih banyak menggunakan whatsApp group karena lebih hemat kuota internet, menggunakan media yang memadai lainnya juga untuk memberikan penjelasan materi yang cukup dimengerti mahasiswa. Dari segi penilaian atau assesment diharapkan dosen dapat berlaku adil dan menghargai usaha dari para mahasiswanya. Dari segi tugas dan koreksinya, diharapkan dosen dapat memberikan feedback agar mahasiswa dapat mengetahui lebih jelas terhadap tugas yang sudah dikerjakan.  
tingkat keefektifannya yang bisa dikatakan relatif, tergantung dari masing-masing komponen yang menunjang atau turut serta dalam proses pembelajaran daring ini sehingga diharapkan pembelajaran ini membawa hasil yang terbaik meskipun dalam keterbatasan yang ada. Mahasiswa diharapkan mandiri dan lebih aktif belajar bukan hanya mengandalkan materi yang telah diberikan saja tetapi juga dari sumber lain. Dosen dan pihak Fakultas/Universitas hendaknya menyesuaikan kurikulum dengan keadaan saat ini sehingga perkuliahan daring tetap dapat dilaksanakan dan tidak terlalu membebani. Diperlukan pula model pembelajaran yang atraktif, aktif, dan dapat diterima oleh semua tipe mahasiswa. Pemerintah juga mengusahakan yang terbaik untuk menunjang keberlangsungan pembelajaran di masa pandemi COVID-19 ini, seperti contohnya pemberian subsidi kuota bagi siswa, guru, mahasiswa, maupun dosen tiap bulannya. Dalam jangka panjang, pembelajaran daring dapat membatasi kegiatan lapangan atau praktikum yang mendukung mata kuliah sehingga diperlukan inovasi pembelajaran campuran learning saat kondisi sudah mulai membaik dan memungkinkan pelaksanaan protokol kesehatan di kampus.

Namun situasi sekarang sangat memberi beban pada mahasiswa dan membuat pengalaman perkuliahan menjadi sesuatu yang membosankan, bahkan bisa sampai pada titik kejenuhan dan berdampak pada tidak berkualitasnya pendidikan yang diperoleh. Mahasiswa terengah-engah mengikuti proses pembelajaran. Dalam sekejap tugas menumpuk. Mereka dituntut bertransformasi jadi pembelajar mandiri dalam waktu semalam. 
Diharapkan semoga pembelajaran melalui online ini dapat lebih maksimal lagi, baik mahasiswa maupun dosen. 

Menghadapi situasi seperti ini, aku sangat berharap jika mahasiswa semester 3 yang sama sekali belum pernah merasakan kuliah tatap muka ini segera kuliah luring atau tatap muka. Mungkin sudah setahun ini aku sudah terbiasa dengan kuliah online, namun harapan untuk beradaptasi dengan hal baru sangat diinginkan, bukan soal kenyamanan atau tidak nyaman, namun sudah seharusnya kami mendapatkan fasilitas yang seharusnya didaptkan agar materi pun didapatkan dengan baik, tugas dikerjakan dengan baik, bukan hanya sebatas menggugurkan kewajiban saja. Semoga pandemi ini pun segera berakhir, bukan hanya dunia perkuliahan, namun semua jenjang pendidikan juga mengalami kesulitan saat kuliah online, maka dari itu semoga pendidikan di Indonesia ini lebih baik lagi. Dan semoga semua juga bisa menerima kondisi seperti ini.

Jumat, 01 Oktober 2021

Narasi-Pengalaman Perkuliahan

 

Nama   : Dede Agustianto

NIM    : 12001189

Kelas   : PAI 3E

 

Assalamualaikum wr.wb perkenalkan nama aku Dede agustianto. Sebelum aku menceritakan pengalaman selama melakukan perkuliahan semester ini, saya ingin flashback dulu ke masa pertama kali aku masuk perkuliahan semester pertama. Senin, 19 Oktober 2020 adalah hari pertama aku masuk kuliah di Universitas IAIN Pontianak. Malam sebelum hari senin aku bergadang karena aku sangat menyukai game Mobile Legends sehingga membuat aku lupa dengan waktu istirahat di malam hari, sampai waktu subuh aku terbangun dan melakukan ibadah sholat subuh setelah itu aku berifikir kalau tidur lagi bakalan bangun telat karena lama sudah tidak sekolah jadi terbiasa dengan sehabis subuh tidur lagi, yaa karena tidak ada kegiatan sehabis tamat SMA untuk mengisi kegabutan hanya bergadang main game. Sehingga membuat ku mengurungkan niat ku untuk tidur jadi aku memainkan Handphone (Gawai).


Tidak lama kemudian terjadi lah yang tidak aku inginkan saat itu yaitu tertidur dan membuat aku bangun pukul 06.45 pada saat itu aku lupa bahwa kuliah hari pertama pada hari itu, untung ada kawan yang mengingat kan

“siap-siap kawan sebentar lagi kuliah hari pertama”

langsung spontan aku mengingat bahwa sekarang ini hari senin hari kuliah pertama, dengan cepat aku mandi, selesai mandi aku langsung cepat-cepat memakai pakaian dan langsung memegang HandPhone (Gawai).Dan ternyata oh ternyata kuliah hari pertama menggunakan WhatsApp padahal aku sudah mendownload aplikasi Zoom dan Google meet, tapi tidak apa-apa lah ada juga kemudahan nya terima kasih dosen ku.

 

Lanjut ke Mata Kuliah pertama yaitu Bahasa Indonesia dengan dosen yang bernama ibu Farninda Aditya, M. Pd. Kesan pertama yang lumayan menegangkan karena ya baru jadi mahasiswa rasanya deg-degan mana takut telat, taku dosen garang dan takut bertanya. Di mulai dari absen pelajaran Bahasa Indonesia aku melihat ibu Farninda garang menurut aku tetapi garang nya pasti untuk mengajarkan anak-anak mahasiswa baru untuk kebaikan ya walaupun kadang-kadang masih ada sifat waktu SMA suka melawan guru dan lain-lain. Kembali ke pelajaran rupanya kesan pertama tidak buruk walaupun absen telat ya insyaallah akan di perbaiki.

 

Waktu jam pertama pun habis. Lanjut Mata Kuliah Bahasa Inggris, Nama dosen Mata Kuliah Bahasa Inggris adalah ibu Vibry Andina Nurhidayah, S. PD., M.Hum. ngomong-ngomong Bahasa Inggris yaa kalian tau la yang namanya Bahasa Inggris pasti Speak To English dan… kenyataan nya aku hanya tau yes dan no, tetapi tidak apa la namanya juga belajar. Kesan pertama kali ini lumayan enjoy karena yang pertama belum mengetahui apa-apa soal kuliah online dan untung dosen Mata Kuliah Ini enjoy jadi kadang serius dan kadang bergurau, pelajaran ini salah satu pelajaran yang ingin aku kuasai karne aku bermain Game terkadang berjumpa dengan Orang Inggris jika aku menguasai Bahasa Inggris yaa walaupun sedikit setidak nya aku bias berkomunikasi dengan Orang Inggris dan bias juga menambah kawan lumayan ada sahabat pena kata orang-orang.

 

Untuk hari pertama kuliah seperti biasa yaah tetap perkenalan, tapi perkenalan tahun ini berbeda di karenakan kondisi sekarang sedang pandemi Covid (corona) jadi, perkenalan kuliah tahun ini melalui media seperti zoom atau google meet. Tetapi ada yang beda di tahun ini rasanya kurang menyenangkan jika awal-awal kuliah sudah online jadi kurang seru gitu. Hari pertama kuliah pun selesai walaupun online tetapi mau tidak mau harus di jalankan walaupun online.

 

Begitu lah kira-kira pengalamanku saat pertama kali masuk kuliah di semester pertama, selanjutnya aku akan menceritakan pengalamanku selama semester 2 ini. Pada saat itu virus Corona atau biasa di sebut Covid-19 telah mengubah semua sendi kehidupan. Semua aktivitas dilakukan secara online, karena adanya larangan keluar rumah guna memutus mata rantai penyebaran virus yang telah menelan banyak korban. Konsep pendidikan juga berubah, tadinya proses belajar mengajar dilakukan secara tatap muka, sekarang menggunakan berbagai aplikasi jejaring sosial.

 

Hal ini ternyata sangat membosankan dirasakan sebagian besar mahasiswa Universitas IAIN Pontianak. Hal tersebut banyak curhatan mahasiswa belajar daring dan banyak juga mahasiswa mulai mengeluhkan proses perkulihan dilakukan secara daring. Mulai adanya kebosanan dengan sistem ini, banyaknya tugas yang diberikan dosen, dan adanya kerinduan untuk berjumpa dengan kawan-kawan serta ingin merasakan kuliah tatap muka yang menurut mereka sangat membantu dalam memahami ilmu secara efektif.

 

Maka dari itu banyak sekali mahasiswa yang berusaha mencari kerjaan sampingan untuk menutupi kebosanan yang sedang kami jalani saat itu, adapun yang tidak mencari pekerjaan sampingan akan tetapi mereka membuka bisnis kecil-kecilan untuk mencukupi kebutuhan kuliah online ini. Maka dari itu aku kira awalnya mahasiswa tidak mendapatkan kouta terkhusus kampusku yaitu IAIN Pontianak, akan tetapi tidak lama kemudian kami mendapatkan bantuan kouta dari kampus yaa… walaupun tahap-tahapnya memakan waktu yang lama tetapi cukuplah untuk kami yang tidak mempunyai ekonomi yang berkecukupan untuk memenuhi kebutuhan kuliah online ini.

 

Setelah mendapatkan kouta itu pun aku sedikit tidak khawatir tentang jaringan untuk proses perkuliahan. Akan tetapi, di saat itu juga aku kembali berpikir untuk tidak selalu meminta uang apapun kecuali uang bayar kuliah kepada orang tua ku. Tetapi di balik pemikiran itu aku berfikir lagi jika aku mencari kerja sampingan apa akan bisa? jika aku ada pekerjaan sampingan bisa jadi susah jika kuliah sambil kerja dengan tugas yang selalu ada akan sulit membagi waktu tugas dan waktu istirahat dan bisa juga menjadi mudah.

 

Aku pun sempat berfikir untuk tidak berharap apapun kepada orang tua ku mengenai baju,laptop,handphone dan barang lainya, semenjak tamat dari SMA aku sudah berniat untuk tidak meminta uang kepada orang tua ku karena aku ingin belajar tidak bergantung kepada orang tu. Seperti pola uang yang aku stop meminta karena banyak orang yang bisa jalan waktu kuliah masih ada yang memakai duit orang tuanya, walaupun tidak semua tetapi aku berfikir untuk tidak meminta nya. Walaupun itu membuat aku tidak bisa ikut teman-temanku ngumpul ataupun jalan tetapi setidaknya aku mengurangi ekonomi di keluarga ku.

 

Pada semester 2 ini juga proses perkuliahan yang aku jalani kurang aku tekuni, dikarenakan aku dan teman-temanku kembali mengadakan tournament game mobile secara online. Singkat cerita setelah aku malas-malasan dalam kuliah dikarenakan kuliah online ini aku dan teman-teman secepat mungkin mengadakan perlombaan tournament tesebut.

 

Hari pertama tournament game Mobile Legends dan PUBG Mobile di lakukan secara online aku selaku panitia berkumpul di cafe wak leman. Sejak hari itu aku melaksanakan tugas sebagai panitia dengan tanggung jawab karena di saat itu aku memberanikan diri untuk mengambil pj game mobile legend, hari pertama pertandingan adalah hari yang sangat meneganggkan bagi aku pribadi. Karena aku harus esktra menyiapkan segala persiapan yang harus di atur supaya acara tournament ini berjalan lancar, karena jika aku gagal saat hari pertama gimana hari selanjutnya.

 

Pokoknya hari pertama ini bisa di bilang hari di mana aku merasakan suasana tegang, aku berpikir apakah dengan aku menjadi pj pada tournament kali ini akan berjalan lancar atau sebaliknya. Untungya aku di bantu oleh temanku,

 

“setelah ini kamu lakukan ini dek..”

 

Setelah mendengar suruhan temanku aku langsung mengerti dengan situasi yang sedang aku hadapi. Kondisi di saat itu banyak sekali yang bisa aku ambil pelajarannya, salah satunya di mana aku harus mau tidak mau pandai membaca situasi perlombaan online pada saat itu. Gimana caranya melihat yang curang atau lain sebagainya, tidak terlepas teman-temanku lah yang mengajari aku untuk mengerti situasi perlombaan secara online tersebut.

 

Tidak lupa juga pada saat itu aku merasakan memegang uang hadiah dari tournament online tersebut, kebetulan tournament online kali ini kami mendapatkan beberapa sponsor jadi hadiah online kami tidak perlu kami pusingkan lagi. Akan tetapi di lain sisi, aku merasa pusing dan takut memegang hadiah tournament pada saat itu, bukanya senang malah sebaliknya. Aku berpikir apakah akan aman jika uang ini aku pegang dan apakah uang hadiah ini tidak berkurang atau pun tidak nambah, meskipun kalau tiba-tiba nambah yaa bagus kan. Maka dari sini lah aku merasa ohh begini ya rasanya memegang uang sebanyak ini dan begini rasanya jika jadi bendahara yang memegang uang di setiap acara apapun. Pada tournament saat ini aku sangat antusias acara ini dan kebetulan perkuliahan online juga jadi aku rasa aku harus mencari kesibukan makanya aku berani mengambil posisi pj tournament online kali ini, hari pertama aku menjadi pj tournament aku di ajarkan untuk berbicara melalui google meet dan kebetulan tournament kali ini yang aku bilang tadi kami lumayan mendapatkan beberapa sponsor jadi tournament online ini lumayan mewah sedikit lah. Makanya aku di ajarkan untuk berbicara di goggle meet karena 15 menit sebelum pertandingan ada waktu untuk berbicara dengan player yang mengikuti tournament saat itu.

 

Pada hari pertama itu lah aku rasa aku harus bisa, harus bisa dan harus bisa. Aku akan tunjukan kepada teman-teman yang meremehkan diri aku, dan buktinya… aku terbatah-batah saat google meet. Aku pikir tidak apa-apalah toh acaranya tetap berjalan lancar, karena itu aku tidak jadi insecure. Lalu aku langsung memulai perlombaan pada hari pertama. Singkat cerita hari pertama selesai dan lanjut hari kedua.

 

Pada hari kedua aku melakukan seperti biasanya dan hari kedua ini aku harus lebih baik dari hari pertama dan seperti biasa aku melakukan tugasku sebagai pj mobile legend yang telah di lakukan di hari petama di lakukan juga di hari kedua. Ada yang spesial di hari kedua ini,yaitu aku di ajarkan untuk bisa pandai mengedit twibon, padahal aku tidak mengerti apa yang di jelaskan oleh temanku tetapi aku tetap bilang “oke oke oke paham”. Mau gimana lagi jika aku bilang tidak bisa-bisa aku tidak di ajarkan caranya membuat twiban, tapi aku pikir aku harus pandai suatu hari.

 

Lalu hari kedua perlombaan pun aku jalani dengan mudah dan dengan sukses acara tournament itu, tournament online ini di lakukan hanya 3 hari yang di mana, 2 hari untuk mobile legend dan 1 hari untuk PES. Karena perlombaan PES sudah jarang muncul di daerah tempat tinggalku makanya aku dan teman-teman sepakat untuk mengadakan PES saja, sekalian untuk mencoba-coba apakah ramai. Jika ramai mungkin bisa di adakan untuk acara besar di akhir tahun 2022.

 

Setelah aku menjadi Panitia Tournament online itu aku tidak lupa juga dengan tugas-tugas kuliah yang sangat banyak, yahh walaupun tidak sebanyak pada saat semester 1. Akan tetapi semester 2 ini aku sudah mulai masuk ke tingkat kejenuhan karena aku berpikir semester 2 saja masih online apa lagi semester 3, makanya aku bermalas-malasan di semester 2 itu bukan karena aku tidak memikirkan duit orang tuaku akan tetapi aku merasa dengan kuliah online tidak semua orang bisa masuk ilmunya. Karena dari kelas 1SD sampai 3 SMA zamannya aku sudah sering dengan tatap muka, bukanya tidak mengikuti aturan yang sudah ada akan tetapi apa salahnya jika masuk setengah dan setengahnya tidak masok ataupun silahkan pilih yang ingin offline siapa-siapa dan yang ingin online siapa-siapa, yaa mungkin nantinya akan banyak yang ingin offline jadi pasti ada antisipasi jika yang ingin offline.

 

Makanya aku agak bermalas-malasan pada semester 2 itu, akan tetapi banyak sekali yang bisa aku pelajari. Dari menahanya hawa nasfu yang di mana saat awal-awal semester 1 aku sangat bernafsu untuk pergi ke café atau pun keluar keluyuran kemana, yahh wajar lah baru-baru merasakan menjadi mahasiswa. Tetapi beda dengan sekarang.

 

Semester 2 ini banyak sekali yang menurutku hal-hal baru, dari proses belajar melalui online (daring) Di semester dua ini sangat banyak tugas yang mengharuskan kami membentuk kelompok, hampir semua mata kuliah menggunakan kelompok untuk membuat makalah yang kemudian akan di presentasikan. Kami melewati berbagai macam tugas dengan berbagai tantangan juga. Mulai dari materi yang sulit didapatkan, kuota yang pas-pasan, kelompok kurang kompak, teman yang sulit dihubungi, presentasi kurang maksimal, grogi saat harus on cam di google meet, kondisi jaringan internet bermasalah. Kondisi jaringan internet yang berbeda beda di setiap daerah sangat mempengaruhi berlangsungnya perkuliahan. Untuk mahasiswa yang tinggal di daerah perkotaan tentu tidak akan terlalu bermasalah dengan jaringan internet, namun untuk mahasiswa yang tinggal di daerah pedesaan terkadang cukup kesulitan untuk menemukan jaringan yang bagus sehingga membuat kuliah online terganggu.

Melalui pembelajaran daring mahasiswa dapat belajar seperti biasanya dan tidak akan ketinggalan materi perkuliahan, serta waktu yang lebih fleksibel.  Namun pembelajaran daring ini tidak sepenuhnya disambut baik oleh para mahasiswa, karena ada sebagian mahasiswa yang menganggap pembelajaran daring ini lebih menyulitkan dibandingkan dengan pembelajaran biasa, belum lagi kuota internet harus tersedia dan ini adalah kesulitan terbesar yang dialami mahasiswa, kendala pada jaringan, ketersediaan perangkat pembelajaran seperti  laptop, tingkat pemahaman materi yang dirasa lebih baik jika melakukan kuliah tatap muka, dan juga tidak semua dosen dan mahasiswa siap mengoperasikan sistem pembelajaran daring dengan cepat, termasuk juga mempersiapkan bahan perkuliahan secara digital. Menurut berita yang saya baca, Direktur Politani Samarinda, Hamka S.TP.,MP.,M.Sc. menjelaskan bahwa berbagai upaya dilakukan untuk mengantisipasi keadaan ini,  seperti  dikeluarkan kebijakan belajar dan bekerja dari rumah (WFH), Kuliah daring sebagai  salah  satu solusi pembelajaran dimasa covid ini merebak, kuliah daring memberikan pembelajaran jarak jauh dimana bahan kuliah yang diberikan melalui  perangkat teknologi tentu akan memudahkan bagi mahasiwa untuk tetap mendapatkan perkuliahan tanpa tatap muka, lebih lanjut Hamka kembali mengatakan Pilihan ini harus diambil untuk melakukan tindakan pencegahan dan mitigasi yang efektif atas wabah yang kini telah menjadi pandemi global,  di antara kebijakan yang diambil ialah menonaktifkan kegiatan perkuliahan di lingkungan kampus serta melakukan karantina mandiri mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan, karyawan lainnya dan  termasuk tidak melakukan pertemuan tetapi melakukan perkuliahan dan bimbingan secara daring, meskipun pembelajaran daring ini hanya memberikan kemampuan teoritis, sehingga bagi politeknik sendiri masih dirasa jauh untuk mendapatkan skill atau kompetensi yang harus didapat jika praktek dengan model tatap muka.

 

Masalah lain juga dialami, yaitu Akibat sulit dan kurang mengertinya pengoperasian media yang digunakan, banyak dosen yang mengganti kuliahnya dengan memberikan mahasiswanya banyak tugas. Akibatnya jumlah tugas kuliah menumpuk, sehingga kurang maksimal dalam pengerjaannya, belum lagi tugas yang deadline nya cukup singkat. Disemester ini pun sulit menemukan kesalahan yang dikerjakan, Karena sulitnya proses komunikasi saat kuliah online, banyaknya tugas yang diberikan dosen tanpa adanya feedback. Hal ini seakan cuma formalitas semata bagi sebagian dosen, memberikan tugas, dikumpulkan, setelah itu diberikan tugas lagi tanpa adanya penjelasan mengenai tugas tersebut. Mahasiswa pun dianggap seakan-akan sudah mengerti dan menguasai semua materinya.

Metode UTS yang digunakan pada semester ini kurang lebih sama pada semester sebelumnya, namun lebih banyak diberikan soal dan tugas makalah untuk individu, belum lagi kami diberikan tugas video. Menurutku, tugas video inilah yang sangat susah karena kurang paham untuk mengedit agar video tersebut tidak bosan dilihat. Akhirnya aku meminta bantuan teman untuk mengedit video tersebut. kendala lainnya juga dirasakan karena besarnya ukuran file video, jadi cukup sulit untuk mengirimnya melalui WAG. Teman-teman lain pun juga kesulitan untuk mendownload file tersebut.

Kami juga diberi kesempatan untuk melakukan webinar yang belum pernah kami lakukan disemester sebelumnya, aku mendapat tugas sebagai panelis yang mengharuskan aku harus bisa menguasai materi yang akan dibicarakan. Aku sangat gugup karena webinar ini gabungan dari kelas D dan E, dimana aku tidak mengenal mereka semua dengan baik.

Di semester 2 ini juga aku sempat masuk ke dalam organisasi kampus yang bernamakan UKM OLAHRAGA, di karenakan latar belakang keluargaku yang semuanya menyukai semua jenis olahraga jadi makanya aku masuk ke UKM olahraga ini. Karena aku pikir jika aku masuk Organisasi aku perkuliahan aku pasti tidak akan terganggu dan kegiatan di sana pun pastinya positive semua toh semuanyakan olahraga jadi staminaku pasti terjaga. Tidak lama kemudian dari UKM ini akan diadakan Pengukhan yang di mana Pengukuhan ini bisa di sebut proses pengukuhan untuk menjadi anggota tetap dari UKM olahraga ini dan akhrinya aku tidak dapat mengikuti Pengukuhan tersebut kada faktor ekonomi yang pada saat itu tidak memungkinkan aku untuk mengikuti kegiatan terakhir itu yaitu Pengukuhan tersebut, akan tetapi aku tetap di anggap sebagai anggota UKM tetapi aku di anggap sebagai partisipan. Istilah partisipan ini bisa di artikan orang yang tidak mengikuti pengukuhan tetapi orang ini selalu aktip  makanya di sebut dengan partisipan.

Jadi, pada saat semester 2 itu aku mendapatkan banyak sekali pelajaran yang di bahas di luar dari perkuliahan yang bisa di sebut dengan banyak sekali pengalaman yang aku dapatkan, salah satunya yaitu bagaimana cara mengatur uang di masa pandemic dan caranya mendapatkan pengetahuan seperti bagaimana cara berbicara di depan umum, sopan santun dan ikhlas. Menurutku ini adalah suatu pengalaman yang sangat menguntungkan, bukanya untung 1 atau 2 hari. Akan tetapi untungnya bisa sampai anak-anak aku nanti

 

Ada satu lagi yang aku dapatkan di semester 2 yakni, pada saat di penghujung semester ini ada beberapa teman-temanku yang lagi mencari teman yang di saat mereka susah apakah ada teman yang sering nongkrong membantunya dan ternyata temanku bercerita.

 

“saran aku dek, mau seberapa banyaknnya teman. Terkadang teman sejati tidak muncul di saat senang akan tetapi sebaliknya dan banyak juga orang yang lupa temannya pada saat dia senang”

 

Dari situ aku sangat memikirkan perkataanya, terkadang memang betul dan terkadang salah. Pemikiran setiap orang berbeda-beda kita tidak bisa memaksakannya yaa begitulah pertemanan di saat ini. Ada yang datang di saat senangnya ada juga datang di saat susahnya, jadi kita sendiri harus pandai memilih yang mana teman, kawan dan sahabat.

 

Banyak sekali mahasiswa yang mengeluh dengan perkuliah online ini bahkan dosen pun ada yang mengeluh karena perkuliahan daring ini, di karenakan tidak semua dosen yang memahami teknologi saat ini makanya ada beberapa dosen yang mengeluh juga. Maka dari itu perkuliahan online (daring) ini bisa di bilang bagus dan bisa juga di bilang tidak bagus, mau gimana lagi kita sebagai rakyat harus mematuhi perintah yang telah di tetapkan oleh pemerintah.

 

Jadi, harapan saya mengalami dengan perkuliahan online ini. Tolong di fasilitasi bagi teman-teman yang berada di kampung ataupun teman-teman yang ekonominya terbatas untuk membeli kouta, bukanya apa kasihan teman-teman yang ada keinginan besar untuk kuliah secara online tetapi di batasi dengan ekonomi yang sangat terbatas. Namun situasi sekarang sangat memberi beban pada mahasiswa dan membuat pengalaman perkuliahan menjadi sesuatu yang membosankan, bahkan bisa sampai pada titik kejenuhan dan berdampak pada tidak berkualitasnya pendidikan yang diperoleh. Mahasiswa terengah-engah mengikuti proses pembelajaran. Dalam sekejap tugas menumpuk. Mereka dituntut bertransformasi jadi pembelajar mandiri dalam waktu semalam.

Diharapkan semoga pembelajaran melalui online ini dapat lebih maksimal lagi, baik mahasiswa maupun dosen.

 

Menghadapi situasi seperti ini, aku sangat berharap jika mahasiswa semester 3 yang sama sekali belum pernah merasakan kuliah tatap muka ini segera kuliah luring atau tatap muka. Mungkin sudah setahun ini aku sudah terbiasa dengan kuliah online, namun harapan untuk beradaptasi dengan hal baru sangat diinginkan, bukan soal kenyamanan atau tidak nyaman, namun sudah seharusnya kami mendapatkan fasilitas yang seharusnya didaptkan agar materi pun didapatkan dengan baik, tugas dikerjakan dengan baik, bukan hanya sebatas menggugurkan kewajiban saja. Semoga pandemi ini pun segera berakhir, bukan hanya dunia perkuliahan, namun semua jenjang pendidikan juga mengalami kesulitan saat kuliah online, maka dari itu semoga pendidikan di Indonesia ini lebih baik lagi. Dan semoga semua juga bisa menerima kondisi seperti ini.

Narasi Pengalaman Semester 4

  Nama   : Dede agustianto NIM      : 12001189 Kelas     : 5E PAI   Assalamualaikum wr.wb perkenalkan nama aku Dede agustianto. Sebe...