Nama : Dede agustianto
NIM : 12001189
Kelas : 5E PAI
Assalamualaikum wr.wb perkenalkan nama aku
Dede agustianto. Sebelum aku menceritakan pengalaman selama melakukan
perkuliahan semester ini, saya ingin flashback dulu ke masa semester dua dan
tiga, yang pertama di semester satu.
Aku masuk perkuliahan
semester pertama. Senin, 19 Oktober 2020 adalah hari pertama aku masuk kuliah
di Universitas IAIN Pontianak. Malam sebelum hari senin aku bergadang karena
aku sangat menyukai game Mobile Legends sehingga membuat aku lupa dengan waktu
istirahat di malam hari, sampai waktu subuh aku terbangun dan melakukan ibadah
sholat subuh setelah itu aku berifikir kalau tidur lagi bakalan bangun telat
karena lama sudah tidak sekolah jadi terbiasa dengan sehabis subuh tidur lagi,
yaa karena tidak ada kegiatan sehabis tamat SMA untuk mengisi kegabutan hanya
bergadang main game. Sehingga membuat ku mengurungkan niat ku untuk tidur jadi
aku memainkan Handphone (Gawai).
Tidak lama kemudian terjadi lah yang tidak
aku inginkan saat itu yaitu tertidur dan membuat aku bangun pukul 06.45 pada
saat itu aku lupa bahwa kuliah hari pertama pada hari itu, untung ada kawan
yang mengingat kan
“siap-siap kawan sebentar lagi kuliah hari
pertama”
langsung spontan aku mengingat bahwa
sekarang ini hari senin hari kuliah pertama, dengan cepat aku mandi, selesai
mandi aku langsung cepat-cepat memakai pakaian dan langsung memegang HandPhone
(Gawai).Dan ternyata oh ternyata kuliah hari pertama menggunakan WhatsApp
padahal aku sudah mendownload aplikasi Zoom dan Google meet, tapi tidak apa-apa
lah ada juga kemudahan nya terima kasih dosen ku.
Lanjut ke Mata Kuliah pertama yaitu Bahasa
Indonesia dengan dosen yang bernama ibu Farninda Aditya, M. Pd. Kesan pertama
yang lumayan menegangkan karena ya baru jadi mahasiswa rasanya deg-degan mana
takut telat, taku dosen garang dan takut bertanya. Di mulai dari absen
pelajaran Bahasa Indonesia aku melihat ibu Farninda garang menurut aku tetapi
garang nya pasti untuk mengajarkan anak-anak mahasiswa baru untuk kebaikan ya
walaupun kadang-kadang masih ada sifat waktu SMA suka melawan guru dan
lain-lain. Kembali ke pelajaran rupanya kesan pertama tidak buruk walaupun
absen telat ya insyaallah akan di perbaiki.
Waktu jam pertama pun habis. Lanjut Mata
Kuliah Bahasa Inggris, Nama dosen Mata Kuliah Bahasa Inggris adalah ibu Vibry
Andina Nurhidayah, S. PD., M.Hum. ngomong-ngomong Bahasa Inggris yaa kalian tau
la yang namanya Bahasa Inggris pasti Speak To English dan… kenyataan nya aku
hanya tau yes dan no, tetapi tidak apa la namanya juga belajar. Kesan pertama
kali ini lumayan enjoy karena yang pertama belum mengetahui apa-apa soal kuliah
online dan untung dosen Mata Kuliah Ini enjoy jadi kadang serius dan kadang
bergurau, pelajaran ini salah satu pelajaran yang ingin aku kuasai karne aku
bermain Game terkadang berjumpa dengan Orang Inggris jika aku menguasai Bahasa
Inggris yaa walaupun sedikit setidak nya aku bias berkomunikasi dengan Orang
Inggris dan bias juga menambah kawan lumayan ada sahabat pena kata orang-orang.
Untuk hari pertama kuliah seperti biasa
yaah tetap perkenalan, tapi perkenalan tahun ini berbeda di karenakan kondisi
sekarang sedang pandemi Covid (corona) jadi, perkenalan kuliah tahun ini
melalui media seperti zoom atau google meet. Tetapi ada yang beda di tahun ini
rasanya kurang menyenangkan jika awal-awal kuliah sudah online jadi kurang seru
gitu. Hari pertama kuliah pun selesai walaupun online tetapi mau tidak mau
harus di jalankan walaupun online.
Begitu lah kira-kira
pengalamanku saat pertama kali masuk kuliah di semester pertama, selanjutnya
aku akan menceritakan pengalamanku selama semester 2 ini. Pada saat itu virus
Corona atau biasa di sebut Covid-19 telah mengubah semua sendi kehidupan. Semua
aktivitas dilakukan secara online, karena adanya larangan keluar rumah guna
memutus mata rantai penyebaran virus yang telah menelan banyak korban. Konsep
pendidikan juga berubah, tadinya proses belajar mengajar dilakukan secara tatap
muka, sekarang menggunakan berbagai aplikasi jejaring sosial.
Hal ini ternyata sangat membosankan
dirasakan sebagian besar mahasiswa Universitas IAIN Pontianak. Hal tersebut
banyak curhatan mahasiswa belajar daring dan banyak juga mahasiswa mulai
mengeluhkan proses perkulihan dilakukan secara daring. Mulai adanya kebosanan dengan
sistem ini, banyaknya tugas yang diberikan dosen, dan adanya kerinduan untuk
berjumpa dengan kawan-kawan serta ingin merasakan kuliah tatap muka yang
menurut mereka sangat membantu dalam memahami ilmu secara efektif.
Selanjutkan ceritaku di
semester 3 yakni, memperpanjang cerita yang telah aku tulis di semester 1.
Dengan menambahkan ceritanya jadi semakin jauh dan semakin menarik. Karena pada
saat kami berbincang, bang fajar berkata “ujung dari ceritanya gantung de”.
Makanya setelah itu tanpa kami sadari, kami berbincang-bincang soal
cerita-cerita film seperti film Harry Poter, Jumanji, Fantastic
Beast dan film fantasy lainya. Begitulah asal muasal dari kelanjutanya buku
Terjebak Di Pulau Borneo ini. Setelah itu aku fokus memeperpanjang buku cerita
itu. Hari demi hari aku mencari ide untuk memperpanjang cerita itu, dari
menonton film action, comedy dan fantasy yang bisa membuat otak ku lancar.
Harapanku untuk semester berikutnya yang
pertama adalah dilakukan kuliah tatap muka, karena sudah ada wacana akan
dilakukan kuliah tatap muka disemester baru, namun tidak terasa aku sudah
memasuki semester baru, yaitu semester ganjil atau semester tiga yang ternyata
masih tetap sama, hanya wacana, lagi-lagi aku harus melakukannya secara online.
Harapan lain, agar biaya UKT bisa diringankan dan memberikan info yang jelas.
Aku juga berharap agar perkulihan ini
lebih banyak menggunakan whatsApp group karena lebih hemat kuota internet,
menggunakan media yang memadai lainnya juga untuk memberikan penjelasan materi
yang cukup dimengerti mahasiswa. Dari segi penilaian atau assesment diharapkan
dosen dapat berlaku adil dan menghargai usaha dari para mahasiswanya. Dari segi
tugas dan koreksinya, diharapkan dosen dapat memberikan feedback agar mahasiswa
dapat mengetahui lebih jelas terhadap tugas yang sudah dikerjakan.
tingkat keefektifannya yang bisa dikatakan
relatif, tergantung dari masing-masing komponen yang menunjang atau turut serta
dalam proses pembelajaran daring ini sehingga diharapkan pembelajaran ini
membawa hasil yang terbaik meskipun dalam keterbatasan yang ada. Mahasiswa
diharapkan mandiri dan lebih aktif belajar bukan hanya mengandalkan materi yang
telah diberikan saja tetapi juga dari sumber lain. Dosen dan pihak
Fakultas/Universitas hendaknya menyesuaikan kurikulum dengan keadaan saat ini
sehingga perkuliahan daring tetap dapat dilaksanakan dan tidak terlalu
membebani. Diperlukan pula model pembelajaran yang atraktif, aktif, dan dapat
diterima oleh semua tipe mahasiswa. Pemerintah juga mengusahakan yang terbaik
untuk menunjang keberlangsungan pembelajaran di masa pandemi COVID-19 ini,
seperti contohnya pemberian subsidi kuota bagi siswa, guru, mahasiswa, maupun
dosen tiap bulannya. Dalam jangka panjang, pembelajaran daring dapat membatasi
kegiatan lapangan atau praktikum yang mendukung mata kuliah sehingga diperlukan
inovasi pembelajaran campuran learning saat kondisi sudah mulai membaik dan
memungkinkan pelaksanaan protokol kesehatan di kampus.
Namun situasi sekarang sangat memberi
beban pada mahasiswa dan membuat pengalaman perkuliahan menjadi sesuatu yang
membosankan, bahkan bisa sampai pada titik kejenuhan dan berdampak pada tidak
berkualitasnya pendidikan yang diperoleh. Mahasiswa terengah-engah mengikuti
proses pembelajaran. Dalam sekejap tugas menumpuk. Mereka dituntut
bertransformasi jadi pembelajar mandiri dalam waktu semalam.
Diharapkan semoga pembelajaran melalui
online ini dapat lebih maksimal lagi, baik mahasiswa maupun dosen.
Menghadapi situasi seperti ini, aku sangat
berharap jika mahasiswa semester 3 yang sama sekali belum pernah merasakan
kuliah tatap muka ini segera kuliah luring atau tatap muka. Mungkin sudah
setahun ini aku sudah terbiasa dengan kuliah online, namun harapan untuk
beradaptasi dengan hal baru sangat diinginkan, bukan soal kenyamanan atau tidak
nyaman, namun sudah seharusnya kami mendapatkan fasilitas yang seharusnya
didaptkan agar materi pun didapatkan dengan baik, tugas dikerjakan dengan baik,
bukan hanya sebatas menggugurkan kewajiban saja. Semoga pandemi ini pun segera
berakhir, bukan hanya dunia perkuliahan, namun semua jenjang pendidikan juga
mengalami kesulitan saat kuliah online, maka dari itu semoga pendidikan di
Indonesia ini lebih baik lagi.
Baiklah selanjutnya saya akan menceritakan kegiatan pada saat
liburan semester 4 bulan lalu. Pada saat tibanya liburan semester 4, seperti
biasanya saya memikirkan kembali mengenai buku yang telah saya tulis semenjak
semester 3 yang belum selasai hingga sekarang ini. Entah kenapa, sangat sulit
sekali untuk meneruskan cerita tersebut hingga selesai, sudah banyak film-film
yang saya tonton untuk menjadi referensi buku tersebut agar menjadi cerita yang
membuat pembacanya merasakan nuansa cerita masa kecil berserta di campurnya
cerita-cerita mitos jawa. Tapi sebelum itu saya ingin menceritakan kegiatan apa
saja yang saya lakukan pada saaat liburan semester lalu selain melanjutkan buku
yang berjudul Terjebak Di Pulau Boreno.
Hari pertama liburan semester aku
menyendiri di rumah, sambil memikirkan kegiatan apa yang akan kulakukan selama
satu bulan full ini. Setelah berjam-jam mikir akhirnya aku menemukan rencana
yang telahku siapkan untuk satu bulan full ini. Antara lain, bangun pagi,
olahraga, membaca buku yang berjudul Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo amat,
ngopi bersama teman dan melanjutkan buku. Akan tetapi semua rencana itu hanya
bertahan selama seminggu… Entah kenapa setiap aku merencanakan sebuah kegiatan,
aku tidak bisa melaksanakan rencana tersebut bertahan lama. Hari pertama aku
berhasil melakukan kegiatanku hingga hari ketujuh. Tibalah minggu kedua, aku
sudah mulai tidak sesering minggu pertama melakukan kegiaatan ku di minggu
pertama. Di minggu kedua ini sudah mulai berkurang kegiatanku bangun pagi
beserta olahraga, akan tetapi rutinitas ngopi tetapku lakukan. Karena, di saat
ngopi inilah pikiranku entah kenapa lancar jaya dan ide-ide tentang buku yang
akan aku lanjutkan bisa aku kerjekan kembali dan tidak menutup kemungkinan dari
hasil ngopi lah aku bisa melanjutkan buku walaupun yaaa, hanya sedikit yang
bisaku lanjutkan. Lebih baik sedikit dari pada tidak sama sekali.
Di minggu ketiga aku sudah mulai
tidak terbiasa lagi membaca buku dan alhasil buku yang inginku lanjutkan sudah
tidak tersentuh selama jenjang 2 atau 3 hari. Jadi, dalam waktu seminggu dalam
minggu ketiga ini aku hanya menulis buku 2 atau 3 hari sekali, pada minggu
ketiga ini lah ibuku membeli meja pimpong dan alhasil aku mendapatkan rutinitas
olahragaku kembali walaupun olahraga ini hanya di waktu sore, kebetulan
olahraga pimpong ini bisa di mainkan oleh semua kalangan mau orang tua atau
anak muda. Selama satu minggu full di minggu ketiga ini setiap sore aku
melakukan kegiatan olahgraga yakni olahraga pimpong (Tenis Meja) dan kebetulan
juga bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia yakni 17 Agustus 2022, ulang
tahun NKRI (Negara Kesatuan Repukbil Idonesia) yang ke-77. Banyak sekali orang
tua di tempatku tinggal bermain pimong ini dan dari itulah aku menemukan orang
yang sangat pandai dalam bermain pimpong (Tenis Meja) ini, tidak menutup
kemungkinan dari anak muda beserta orang tua. Kebanyakan yang pandai dalam
bermain olahraga ini yaitu orang tua. Karena, permainan olahraga pimpong (Tenis
Meja) ini sudah terkanal sejaak dulu dan kini sudah meredup di masyarakat.
Sebab sudah berkembangnya teknologi di dunia ini, bukannya sudah menghilang
akan tetapi hanya sedikit berkurang. Toh anak zaman sekarang kebanyakan bermain
Handphone, ke cafe dan lain sebagainya.
Olahraga pimpong (Tenis Meja) ini
pertama kali dibentuk di Inggris tepatnya pada abad ke-19. Olahraga tersebut
kemudian mampu dikembangkang oleh tentara Inggris saat bertugas di India maupun
di Afrika Selatan. Tenis meja sendiri memiliki nama lain yaitu Whiff whaff. Istilah
olahraga ini baru hadir saat memasuki tahun 192101922. Kala itu di bangun
organisasi pemain ping pong. Namun beberapa sumber berpendapat bahwa olahraga
ini terbit pada tahun 1902 dan
diberhentikan 3 tahun setelahnya. Seiiring berjalannya waktu pada tahun 1926
organisasi ini di terbitkan kembali yang bernama Organisasi Tenis Meja
Internasional dan diprakasai oleh Jerman. Lalu terbentuklah Organisasi ITTF (
International Table Tenis Federation) di tahun yang sama juga untuk pertama
kalinya lomba kejuaraan tingkat dunia di
adakan dengan London dan Inggris menjadi tuan rumah penyelenggara.
Minggu ke tiga ini juga menjadi
minggu yang sangat full kegiatan, dari rutinitas yang aku jalani sampai
rutinitas baru. Pada saat aku asik bermain pimpong datanglah abang-abang yang
terlihat sangat biasa saja, dia melihat orang kompekku bermain beserta aku
juga. Setelah memakan waktu sekitar setengah jam, akhirnya giliran abang
tersebut main dan kebetulan dia bermain dengan salah satu juara 17 agustus di
komplekku yaitu Pak Dong. Pada saat set pertama permainan di menangi oleh Pak
Dong, terlihat abang tersebut hanya bermain seperti layaknya orang biasa yang
sekedar pandai main saja tidak lihai atau ahli dalam bermain pimpong ini.
Ketika masuk set kedua inilah abang tersebut mengeluarkan taringnya. Point 0-0
di buat olah abang tersebut dengan bola putar, sontak semua orang terkaget
dengan itu, Pak Dong terlihat kewalahan mengambil bola putar tersebut. akan
tetapi, yaa namanya juga juara 1 di komplek Pak Dong bisa mengambil bola
tersebut. terlihat abang tersebut tersenyum tipis melihat Pak Dong mengambil
bola yang telah di servis.
Setelah
lamanya bermain di set kedua ini , akhirnya dimenangi oleh abang tersebut. pada
saat yang bersamaan Pak Dong mulai serius dengan permainan itu. “Okeee, apakah
ini pertandingan seirus” ujar pak Man (RT Komplek), akhirnya set ketiga
dimulai, yang di buat olehlupakdonbolatidak mau kalah juga Pak Dong
mengeluarkan bola putarnya, akan tetapi sangat mudah sekali di ambil oleh abang
tersebut. di kembalikan lagi dengan bola putar oleh abang tersebut dan akhirnya
pada set ketiga ini mereka berdua saling beradu mekanik, ketika meraka
melanjutkan pemainan itu. Semakin banyak orang komplek menonton mereka berdua,
sangat ramai sekali orang menonton meraka bermain, aku akui permainan meraka
berdua sangatlah big match. Setiap kali meraka berdua servis orang-orang
yang menonton bersorak layaknya menonton pertandingan besar. 25 menit berlalu
akhirya permainan meraka berdua selesai dan di menangi oleh… Abang tersebut.
Setlah meraka berdua selesai,
akhrinya meja, net dan perlengkapan lainya di kemas. Karena, jam sudah
menunjukan pukul 17.00 WIB. Saat berkemas, abang itu dan bapak-bapak mengobrol
sambil menyakat Pak Dong yang kalah dari abang tersebut, Pak Dong hanya bisa
tertawa sambil berkata “Wajar saya kalah, dia ini atlet Telok Pakedai”.
Bapak-bapak laen pun langsung kembali menyakat kembali Pak Dong. Setelah aku
selesai, aku langsung membawa meja pimpong kerumahku dan langsung membungkus
kembali meja pimpong dengan plastic, dikarenakan jika tidak di bungkusnya
benjolan-benjolan kecil yang membuat meja pimpong menjadi rusak. Jadi, di
minggu ketiga kegiatan yang ku lakukan setiap hari tapatnya di waktu sore ialah
bermain pimpong bersama orang komplekku. Di minggu ketiga ini juga aku mulai
kembali aktif bermain olahraga tenis meja (pimpong) ini, rasa gairah ingin
bermain lagi bergejolak kembali, akhirnya aku mengumpulkan uang untuk mengganti
bet (raket) tenis meja dengan harga yang di bandroll 300ribu. Akan tetapi, uang
yang aku kumpulkan tidak lah cukup untuk membeli bet (raket) tenis meja
tersebut, maka dari itu aku berinisiatif untuk kembali berjualan.
Keesokan
harinya, masih di minggu ketiga. Aku bangun di pagi hari dengan niatan untuk
bertanya kepada ibuku. Apakah bisa aku menitipkan jualan di sekolah, tempat
ibuku mengajar. Dengan sigap di iringi ekspresi senang aku menghampiri ibuku.
“Buu,apakah bisa aku menitip jualan di kantin sekolah?” tanyakku. Dengan cepat
ibuku menjawab “Bisa, kamu ingin jualan apa?” Tanya ibuku, “Aku akan jualan
telur gulung dan setiap hari aku hanya jualan 20 tusuk telur gulung saja”
jawabku dengan muka gembira. “Baiklah, mulai besok kamu akan berjualan di kanti
sekolah ibu. Tapi ingat, kamu harus sudah ada di kantin jam 08.00 WIB” ujar
ibuku. tanpa berlama-lama dengan cepat aku menjawab “Siap Boss” jawabku dengan
sambil tertawa.
Hari itu juga aku langsung membeli
segala persedian untuk jualan, yang terdiri dari telur, minyak goring, tusuk
sate, sambal, kecap dan bumbu penyedap. Seharian aku mencari kesana kemari
agen-agen telur beserta minyak goreng. Karena dulu aku pernah membuaka bisnis
kecil-kecilan yang dimana aku menjual segala macam jajanan telur salah satunya
terlu gulung tersebut. setelah sekian lama akhirnya aku mendapatkan dua tempat
agen telur dan satu tempat agen minyak goreng, akan tetapi walaupun semua
minyak goreng sama harga penjualannya walaupun berbeda Rp1.500,- atau
Rp2.000,-. Pada modal pertama ini aku menggunakan uang sisaku yang hanya
berjumla Rp30.000,- aku kira modalnya cukup akan tetapi, aku sempat terkejut
ternyata total semuanya yakni Rp55000,-. Setelah mengetahui modalku kurang, aku
langsung menghampiri ibuku yang sedang mengajar anak kelas 5SD. “Buu, uang
modalku kurang Rp.25.00,-. Bolehkah aku meminjam duit ibu dulu, nanti hasil
pendapatan jualan besok akanku ganti uangnya” mintaku dengan wajah sedih. Ibuku
menjawab “Ooo, ambil aja di tas ibu. Di ruang guru, ambil Rp25.000”. tanpa
berlama-lama aku langsung mengambil uangnya dan langsung pergi membeli
persiapan yang belum aku beli tadi. Setelah memakan waktu 15 menit dan jam
menunjukan pukul 11.30 WIB, tibalah aku di rumah dengan segala persiapan untuk
jualanku besok. Akupun masuk kerumah, langsung dudok di dapur dan meletakkan
persedian untuk besok jualan sekaligus aku mendata total harga yang aku beli
tadi. Benar saja totalnya semua
Rp55.000,- lalu, aku langsung meletakkan telur di lemari tempat ibuku
menyimpan bawang putih&merah beserta telur dan alat dapur lainya, setelah
itu aku menyimpan tusu sate di tempatku biasa menyimpan persedian cemilan yang
biasanya cemilan itu untukku mengerjakan tugas saat malam, lalu aku menyimpan
minyak dan bumbu penyedap tempatnya sama seperti aku menyimpan telur dan yang
terakhir aku menyimpan sambal dan kecap di kulkas.
Setelah semuanya telahku simpan, aku
langsung menunaikan ibadah sholat wajib yakni sholat Dzuhur. 15 menit berlalu,
aku selesai menunaikan ibadah sholat Dzuhur dan langsung baring di Kasur,
sambil membayangkan apakah jualanku akan laris manis atau tidak. Sambil
menunggu sore aku membuka Instagram mencari video-video orang jualan
telur gulung atau cilor dan lain sebagainya.
3 jam
kemudian…
Tibalah
waktu Ashar, aku langsung menunaikan ibadah sholat lalu setelah itu seperti
biasanya aku bermain kembali tenis meja. Akan tetapi, di hari ini ada sedikit
yang berbeda. Karena, bapak-bapak komplek yang ingin bermain itu, semuanya
membawa bet tenis meja (raket) masing-masing sekaligus ingin menantang
abang-abang yang telah aku ceritakan di atas. “Dek, cepat keluarkan mejanya.
Aku sudah tidak sabar main nih” ujar bapak-bapak komplek, tanpa berlama-lama
aku langsung menyimpan sarung dan kopiah, lalu mengeluarkan meja pimpong (tenis
meja). Setalah memakan waktu sekitar 5/10 menit, meja pimpong siap di mainkan.
Dengan waktu yang bersamaan abang tersebut keluar dan langsung di panggil oleh
bapak-bapak komplek “Oi Bang, sini lawan aku” ujar bapak-bapak komplek, dengan
memasang raut wajah gembira abang tersebut langsung menganggukan kepala sembari
berjalan menuju tempat kami bermain.
“Aduhhh,
biarkan dulu lah yang punya main dulu” ujar pak RT.
Dengan
ucapan pak RT akhirnya aku dapat kesampatan main pertama dengan bang tersebut.
“Bang main spin bang ya?” tanyaku, abang itu pun langsung menjawab “Oke,
kasih aku bola rendah biar aku susah nge-smash” permintaan abang
tersebut. setelah itu main lah aku, ibaratkan pemanasan aku meminta pola
permainan spin satu kamar. Setelah memakan waktu 5 menit, akhirnya
tibalah bermain dengan serius. Singkat cerita permainan di menangkan oleh abang
tersebut, aku melihat tidak ada sedikitpun keringan keluar dari tubuh abang
tersebut, setelah bermain dengan bapak-bapak akhirnya keluar juga keringat
abang tersebut. begitulah kegiataanku di minggu ke tiga.
Masuk minggu ke empat, aku sudah
mulai berjualan di pagi hari tepatnya pukul 08.00 WIB, aku sudah bersiap
membuat telur gulung dan sesuai target aku membuat 40 tusuk telur guulung dan
langsung mengantarkannya ke kantik sekolah tempat ibuku mengajar yakni SDN 68
Pontianak Barat. Setelah mengantar jualanku, aku langsung pulang kerumah
sekaligus membersihkan alat-alat masak yang telahku gunakan bekas aku jualan
tadi. Saat aku menyuci, ponselku berdering, ternyata itu ibuku yang menelpon.
“Dek, bikin lagi 30 tusuk, anak-anak ramai ingin membelinya”. Dengan semangat
aku langsung cepat menyuci dan langsung buat kembali 30 tusuk telur gulung.
Setelah itu langsung mengantarkannya kembali ke kantik sekolah ibuku.
15
menit kemudian, aku tiba di sekolah ibuku.
“Bangg,
terlu gulung yah? Aku mau 5 tusuk” ujar anak Sd di sekolah ibuku. dengan rasa
gembira akhrinya jualanku hari pertama ternyata sangat laris manis. Singkat
cerita aku selesai berjualan dan aku
langsung kembali kerumah sambil membawa uang hasil jualanku hari ini dan
ternyata semuanya melewati ekspetasi. Hasil jualanku melewati perkiraanku yakni
pendapatakan ku di hari pertama Rp70.000,. Mungkin hanya itu cerita singkatku
di semester ini. Sekian dan terima kasih.